Friday, September 11, 2009

Google Trend

Coba lihat berita ini:

http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/03/tgl/28/time/103144/idnews/759716/idkanal/398

Menurut statistik Aspiluki/APJII th 2006, pengguna Internet Indonesia sekitar 20 juta atau sekitar 8% penduduk Indonesia. menurut Sylvia (ketuanya APJII), pengguna Internet di Indonesia naik 5 juta s/d akhir th 2007 atau menjadi sktr 11%. Adalah prestasi hebat dg 11% Internetter dapat menjadi ranking 7 dunia dalam search pornografi (padahal trafik Internet .

Kalau soal trafik (outgoing) memang lain. Produsen pornografi tetap dipegang US (89%) dan trafiknya memang mayoritas disini. Tapi, tetap saja pornografi masih jauh dibawah yg. lainnya:

http://arstechnica.com/news.ars/post/20070619-the-youtube-effect-http-traffic-now-eclipses-p2p.html
(Riset di Jerman, dengan menggunakan Deep-Packet-Inspection melihat bahwa dari 37% trafik P2P [Peer-to-Peer], persentasi trafik pornografi didalamnya berbeda-beda menurut negara. Di Eropa, hanya sekitar 1% mendownload pornografi, sementara di Asia/TimTeng malah 5%!)

Dari dua hasil di atas, dapat disimpulkan secara kasar, negara2 berkembang masih ber-Internet-eforia dengan hal2 sederhana spt. pornografi atau entertainment. Sementara di negara2 maju pemakaian Internet lebih bervariasi.

Berikut ini diskusi saya dengan satu rekan di satu milis berkenaan dengan trend negatif yang ditunjukkan oleh komunitas Indonesia.

Emang ada apa dengan trendnya ... bukannya dari tahun 2004 sampai
sekarang juga nggak banyak berubah trend kata "telanjang", kalaupun
naikpun ini juga karena fungsi akses internet makin banyak. Kata
"telanjang" itu ada di semua otak laki-laki, pas dia iseng pasti akan
coba cari "telanjang" di google. Dan bukan yang menakutkan. Di negara
lain juga gitu, internet banyak berhutang budi dari kata-kata seputar
itu, itu sudah naturenya laki-laki. Laki-laki itu mahluk visual.


ML:
Coba lihat berita ini:

http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/03/tgl/28/time/103144/idnews/759716/idkanal/398

Menurut statistik Aspiluki/APJII th 2006, pengguna Internet Indonesia sekitar 20 juta atau sekitar 8% penduduk Indonesia. menurut Sylvia (ketuanya APJII), pengguna Internet di Indonesia naik 5 juta s/d akhir th 2007 atau menjadi sktr 11%. Adalah prestasi hebat dg 11% Internetter dapat menjadi ranking 7 dunia dalam search pornografi (padahal trafik Internet .

Kalau soal trafik (outgoing) memang lain. Produsen pornografi tetap dipegang US (89%) dan trafiknya memang mayoritas disini. Tapi, tetap saja pornografi masih jauh dibawah yg. lainnya:

http://arstechnica.com/news.ars/post/20070619-the-youtube-effect-http-traffic-now-eclipses-p2p.html
(Riset di Jerman, dengan menggunakan Deep-Packet-Inspection melihat bahwa dari 37% trafik P2P [Peer-to-Peer], persentasi trafik pornografi didalamnya berbeda-beda menurut negara. Di Eropa, hanya sekitar 1% mendownload pornografi, sementara di Asia/TimTeng malah 5%!)

Dari dua hasil di atas, dapat disimpulkan secara kasar, negara2 berkembang masih ber-Internet-eforia dengan hal2 sederhana spt. pornografi atau entertainment. Sementara di negara2 maju pemakaian Internet lebih bervariasi.


(RK: Rekan, SY = Saya)


RK:
Coba bandingkan kata "naked" dengan "nanotechnology" -- it will give some conclusion as yours. Apakah artinya? Ya ... memang kata-kata yang menjurus ke visual lebih populer daripada kata-kata ruwet spt. nano-teknologi. Sama sekali nggak bisa menyimpulkan tentang Indonesia.

SY:
Betul, tapi tidak setinggi di Indonesia. Misalnya http://www.google.com/trends?q=naked%2Cphysics%2Cnanotechnology&ctab=0&geo=all&date=all&sort=0.
Rasio bar-bar tersebut tidak sebesar di Indonesia.


RK:
Tentu saja, "sex" adalah kata begitu umum -- semua bahasa hampir memakai untuk kehidupan sehari-hari meskipun bahasa Arab. Coba cari kata-kata yang umum (spt. "happy", "test", "formula") -- belum tentu negara berbahasa inggris native yang nomor satu.

SY:
Wah, darimana menyatakan keyword "sex" itu umum dalam bhs. arab? Mayoritas browser di TimTeng itu malah menggunakan character encoding ISO-8859-6 alias berbahasa arab. Akan lebih ruwet mengetikkan kata "sex" dalam bhs. arab. :-) Apalagi Mandarin. Pinyinnya keyword itu apa yah?

RK:
Maksudku kata "telanjang" adalah begitu spesific tentang Indonesia, pasti ya Indonesia nomor satu. Kata "buceta" adalah kata begitu specific untuk Brazil, maka pasti Brazil menjadi nomor satu (Buceta artinya m*m*k dalam bahasa Portugis di Brazil). Artinya jika "telanjang" mendudukkan Indonesia di nomor satu, bukan berarti bahwa Indonesia nomor satu untuk pingin tahu porno, begitu juga Brasil dengan bucetanya. Nangkap point saya?

SY:
Baca link diatas (hasil riset
TopTenReviews yg. dikutip Detik.com)

Sementara itu, di Sidebar Gmail itu khan ditulis dua group terpisah:

"Sponsored Link" (yg. ini memang dari AdSense), dan "more about..." bagian bawahnya).
Kalau menurut om Google, "Ads and Related Pages Ads in Gmail are placed in the same way that ads are placed alongside Google search results and, through the Google AdSense program, on content pages across the web. The goal is to provide users with helpful ads, links and content relevant to their specific interests. Gmail is a technology-based program. Advertising and
related information are shown using a completely automated process. Learn more."

Jadi tidak semuanya Ad, ada juga faktor "related info" yg. bukan Advertisement.


RK:
Maksud saya tentu tidak spesific tentang AdSense, tapi bahwa Google telah menangkap kata-kata popular di Indonesia dan memanfaatkannya untuk kepentingan dia. Kata-kata popular ini -- saya suspect --
semakin didrive ke suatu website gambar-gambar porno Indonesia oleh webmaster dan dari webmaster ini si Google mulai mendapatkan vocabulary bahasa Indonesia (segala macam kata bahasa Indonesia).
Algoritma Google kemudian menyimpulkan dengan membuat asosiasi bahwa kata-kata bahasa Indonesia berhubungan dengan kata popular seperti "telanjang". Karena ini hanya robot, tentu dia tidak tahu sesungguhnya arti "telanjang" itu sendiri -- makanya dilemparkan ke email pelanggan.

Google semakin dapat keuntungan dengan cara ini, tanpa sesungguhnya tahu arti "telanjang" -- namun webmaster mampu mendrive kata-kata yang ada di otak laki-laki Indonesia ke suatu website dan google memanfaatkannya.

Coba lihat website berikut:

http://myonlinebiz1.blogspot.com/2007/11/foto-bunga-citra-lestari-bugil.html

Google pun mendompleng kata-kata itu untuk ads mereka, walau tidak langsung berhubungan dengan seks. Itu cuma murni kerja robot alias algoritma.

Saya salah menyebutnya sebagai AdSense secara specific, maksud saya adalah untuk menyatakan Ad yang didrive sama Google.

SY:
Yaah..., mas, coba dari awal2 dinyatakan statement tsb., saya jadi nggak repot. Thanks. :-)

Makanya di awal email saya itu saya sebut penyebab link di blognya Ery DJ itu hasil cross-link "Search Rank" (berdasarkan algoritma Data-mining si Sergei Brin & Larry Page di Univ. Stanford). Kalau kita menyebut "AdSense" itu, saya menyimpulkan yah feature AdSense (trademark) dari Google.

Sdh pernah registrasi AdSense? Untuk EFT, google hanya melakukan transfer ke negara2 ini:
https://www.google.com/adsense/support/bin/answer.py?answer=15827&topic=8453
> sementara, rasanya kecil kemungkinannya mereka mengirim cek ke Indonesia (yg. lebih rumit pencairannya). Lagipula, pornografi tidak diperbolehkan di AdSense
(https://www.google.com/adsense/support/bin/answer.py?answer=48182),
kemudian, link2 yg. pelanggan cantumkan itu tidak semua ada logo AdSensenya (makanya diclick dong! :-), mana mau orang di Indo bayar repot bikin laporan W-8 dan dikirim ke IRS di Amerika dan bayar pajaknya

(lihat
https://www.google.com/adsense/support/bin/answer.py?answer=10335&topic=148)

Apalagi ini:
https://www.google.com/adsense/support/bin/answer.py?answer=39725&topic=148


Saya pernah registrasi tapi ya memang rumit untuk dapat duitnya. Untuk sekedar ikut saja, biar saja uangnya numpuk. Lama-lama nanti spt. PayPal yang ikut buka di mana-mana.

So, satu2nya reasoning bahwa itu karena AdSense, hanya ada dua: si Adminnya/perusahaan punya cabang atau tinggal di LN atau orang non-Indonesia ngedompleng kata2 Indonesia di AdSense. Pilihan kedua itu kecil kemungkinannya. Jadi cuma satu kemungkinan besar: si
Admin/kantornya di LN. Beberapa banyak perusahaan Indonesia yg. memiliki lokasi di AS atau mengikuti syarat2 AdSense di Google? Nah, ini saya kurang tahu.

Everything is money driven? betul, tanpa AdSense pun, Google making billions of $$ (meski sekarang turun gara2 Mikocok mau beli Yihui! :-)

RK:
Maksud saya memang bukan AdSense dalam pengertian AdSense, tapi AdSense dalam pengertian Ads yang didrive sama Google spt. PageAd dsbnya. Jadi bagi saya, hadiah/hukuman Google ke pelanggan ... itu adalah dilandasi uang yang ingin didapat oleh Google, tapi Google juga
nggak ingin rakus uangnya sendiri, sebagian diberikan ke webmaster Indoensia yang jagoan memanfaatkan kata-kata yang ada di otak lelaki.

Jadi, tulisan di Kang Ery ... karena murni karena duit, tidak bisa
disimpulkan orang Indonesia lebih porno dari negara lain. Atau orang
Indonesia cuma gemar search porno di Internet.

Apakah artinya Indonesia lebih porno dari negara lain? Nggak bisa
disimpulkan demikian. Apalagi cuma dilihat dari posisi Indonesia di
nomor satu karena gara-gara kata "telanjang".

SY:
Lebih porno sih kurang tahu, tapi kalau search kata2 porno, kembali ke tulisan di situs DETIK dan hasil riset
TopTenReviews itu.


Nama Ketua BRN dikirim ke Luar Angkasa

Pak Dr. Ir. Andrianto Handojo (sekarang ketua Badan Riset Nasional) memang moy....(walau pun saya nggak pernah dapat nilai bagus dari beliau..:-P)
BTW, nama beliau itu termasuk salah satu yg. dipilih NASA dicantumkan di dalam mikrochip pesawat luar-angkasa STARDUST th. 2004.
http://stardust.jpl.nasa.gov/overview/microchip/namesh.html

Jari Ke Atas

Kalau tidak salah, mengacungkan jari tangan itu tidak sama antara eropa dengan Amerika. Ingat film "Johnny English"-nya Mr. Beans? :-) Di inggris, misalnya, mengarahkan 'silit' (maaf) itu sebuah tanda penghinaan, kurang lebih sama dengan angkat jari-tengah tangan di Amerika. Kalau di Amerika, orang bakalan ketawa ngeliat seperti itu.

Di negeri arab, menepuk kepala itu biasa, menepuk pantat adalah penghinaan. Di Indonesia (mungkin) sebaliknya yah?

Saya sempat dengar juga berbagai perbedaaan bahasa isyarat antar bangsa eropa yang bahkan kadang bertolak-belakang.

Perlukah titel didepan nama?

Memang mengejar gelar itu (cuma) ada di negeri berkembang (baca: Indonesia). Di LN, orang mengambil S2/S3 selain karena alasan akademik (u/ mengajar atau melanjutkan sekolah), juga karena memang tuntutan kerja (bukan karena mencari titel, tetapi karena u/ mendisain
peralatan hi-tech memang membutuhkan ilmu lebih lanjut). Lha wong Bill Gates atau Steve Jobs saja tidak bergelar bisa kaya-raya tanpa gelar S1 sekali pun (Bill Gates mendapatkan gelar S1-nya baru-baru ini secara honoris causa dari Harvard. Tidak perlu bikin TA segala :-P).

Di negeri spt. Amerika, jauh lebih banyak pekerjaan buat engineer dg. kompensasi kadang menyamai atau bahkan lebih tinggi dibanding manager atau direktur sekalipun. Hampir tidak pernah ada engineer berpendidikan S1/S2 yg. mencantumkan titel dibelakang nama mereka dalam resume (kecuali di bagian education history). Sering pula seorang manager "mendowngrade" diri mereka dari manager kembali menjadi engineer (tapi pastilah gajinya tidak.)

Bottom-line: Di dunia kerja non-akademik di LN, orang yg. cuma menggelar titel tanpa menunjukkan performansi kerjanya itu sama dengan "tong-kosong nyaring bunyinya". Sebaliknya, titel datang sendiri jika orang dapat menunjukkan hasilnya (contoh di LN: Bill Gates,
contoh di dalam negeri: alm. Buya Hamka dg. gelar Doktor honoris causa)

Apple kebal virus kah

Komputer2 Apple yg. sekarang berbasis Intel, dan sejak release 10.4 (Tiger) sdh bisa dual-partisi dg. Windows, jadi bisa jalan dua2nya secara native (release Leopard sdh punya fitur ini built-in). Virtualization (cuma) bermanfaat jika kita tidak mau reboot komp ke OS lain (performansi OS dibawah virtualization melambat dan tidak semua driver/appl compatible).
Sekarang software aplikasi di Apple sdh makin banyak dan support drivernya juga makin beragam (terutama koneksi dg USB). Orang awam khan paling make komputer buat ngetik (Ada Microsoft Office for Mac), buat browsing (pake Apple Safari, Firefox for Mac, Opera for Mac etc.), buat nge-ipod (ini sih bawaan asli si Apple iTune). Jatuh cinta dg. opensource appl? jauh lebih gampang compile (dan lebih banyak tersedia) aplikasi OS di Mac dibanding Windowz! Kecuali buat hardcore gamer, Apple bukan pilihan pas.
Jadi punya Apple bukan buat sekedar gaya2-an lho (atau iya? soalnya kalo di pilem2 Hollywood, biasanya komputer yg. ditampilkan dalam adegan2 itu Apple-brand. Spt.nya memang trendy, apalagi sekarang Apple lagi naik ranj....eh, daun lagi). Jadi kalau mau beli komputer yg. handal dan 'slick' (walau lbh mahal dibanding PC), Apple comp. memang yahuud...
Saya sendiri pake PC cuma buat kerja di kantor, di rumah sdh 'tersadarkan' ke Mac :-)
Soal Creative (misalnya Zen Player) by default tidak dianggap sbg. storage kalau menggunakan protokol Media Transfer Protocol (MTP hanya di Windows). Harus diswitch ke mode PTP kalau mau dianggap sbg "Storage" (lihat manualnya atau google "Creative PTP"). Sementara iPod secara default menggunakan protokolnya sendiri (meski dapat diset sbg. storage device). Biasanya reset ke Default setting menyelesaikan masalah ini . Biar lebih yakin, driver Creative-nya harus diinstall ulang juga (download di http://www.asia.creative.com/support/downloads/)

Kota Jakarta

Inilah gambaran Jakarta yg. diungkapkan oleh pengamat asing:

http://old.thejakartapost.com/weekender/4point.asp

Beberapa yg. perlu digarisbawahi:
  • Dana buat pendidikan hanya 1.2% GDP (nomor 3 terbawah di dunia)
  • Fasilitas kota (amenities) yg. menyedihkan
  • Tata-kota yg. tidak jelas.
  • Pemda tidak punya gigi dan kota dibangun mayoritas oleh swasta (yang semua mencari untung). Kalau pun Pemda turut-serta, korupsi dikanan-kiri.
  • UU tata-ruang bangunan (building code) yg. rapuh
  • Hampir tidak ada trotoar lebar buat pejalan kaki (paling mungkin di Segitiga Emas?)
  • No 48 termahal biaya hidup, bahkan lebih mahal dibanding Berlin, Merlbourne dan Washington DC, bahkan buat ekspat.
  • "Pak Ogah" dimana-mana, pungutan dimana-mana (mau jalan2 di sisi pantai Ancol saja harus bayar Rp 40.000)
  • Kolong2 jembatan toll menjadi tempat tinggal para homeless.
  • Jakarta telah puluhan tahun dibelakang ibukota negara2 jiran dalam hal: estetika, perumahan, tata-kota, standar hidup, kualitas hidup, layanan kesehatan, pendidikan, budaya, transportasi, kualitas makanan dan higenis.
  • Ketimpangan sosial yang sangat besar
  • Perpustakaan dan museum hanya sebagai simbol, itu pun untung masih ada.
  • Lebih kapitalis dibanding kota2 kapitalis dunia
  • Penduduknya menganggap Jakarta “modern”, “cosmopolitan”, a “sprawling metropolis" (karena mayoritas belum pernah melihat kota2 di negeri jiran).
  • Lalu-lintas yang sangat parah
  • Jakarta jadi 'olok-olok' orang malaysia: "Kalau kita tidak berhati-hati, kota Kuala Lumpur dalam 20-30 tahun akan seperti Jakarta".

Tapi kalau buat jumlah mega-mall, mungkin Jakarta no. 1 dunia? (di Boston, New York, LA atau S. Francisco, mall paling berjumlah 2-6, kecuali kalau shopping2 center dihitung juga).

Apalagi sekarang lagi musim demo, macet luar biasa dimana-mana.

Mungkin ibukota mulai dipikirkan u/ dipindahkan?

TKI

pembangunan daerah harus jauh lebih merata sehingga tersedia lapangan2 kerja buat mereka. Tidak melulu ke Jawa (apalagi ke Jkt yg. sdh sangat padat).

Penduduk 220 jt sebetulnya bisa menjadi asset yang sangat besar, apabila mereka memiliki pendidikan dan keahlian. Ada dua cara u/ "membombardir" lapangan kerja: Kualitas dan Kuantitas. Israel yg. berjumlah penduduk sedikit banyak diminati asing karena kualitasnya.

Cina menghasilkan setengah juta lebih insinyur setiap tahun, di India pun hampir sama (sekarang ini, di setiap pojok dunia hampir pasti ada engineer indihe-nya). Eropa sudah mulai kekurangan engineer, jepang pun demikian. Amerika Serikat dari dulu telah memberikan visa H1 buat skilled worker asing, sekarang lagi benar2 shortage tenaga perawat. Negeri2 Tim-teng
lagi banyak butuh "tukang2" minyak, IT, nurse dsb.

Mestinya dg. 220 jt penduduk itu, kita siap menyuplai TKI kesana (dan tentu, akan menjadi satu sumber devisa). Pendidikan mestinya jadi prioritas nomor wahid program
pembangunan Indonesia.

Green Building

Ngomong2 fisbang dan TKL, ini ada 'green building' atau 'rotating building' pertama di dunia yg. akan dibangun di Dubai:
Hebat! Setiap lantai bisa berputar (digerakkan oleh angin), plus turbin di setiap lantai sebagai generator listrik. Tidak cukup disitu, tiap lantai juga dilengkapi sel photovoltaic. Untuk konservasi energinya, jendela berisolasi khusus dan dinding dilapisi panel2 khusus.
Jadi benar-benar energy-generating dan energy-conserving building !.

Sun Microsystems berhutang kepada Indonesia

Kalau di dunia pengembangan software, sekarang ini nama-nama berbau Indonesia "dicuri" orang tanpa kita bisa membuat patennya (mungkin tidak bisa dibuat patentnya?). Ada bahasa pemprograman bahasa Java (bahasa Jawa), toolkit "Gamelan", ada toolkit Java bernama "Jakarta" dan ada toolkit untuk membuat image di applet bernama "Batik".

Entahlah kalau JBatik itu menggunakan toolkit "Batik" di atas.

Krisis Rumah

Harga rumah sih turun, cuma rata-rata masih diluar jangkauan orang2 biasa (apalagi buat rata-rata orang di Indonesia, kecuali kalau penghasilannya $ juga, spt. banyak member di milis ini :-). Atau kalau mau rajin banget lihat iklan foreclosure. Kemarin saya lihat berita ada orang yg. menang lelang rumah sitaan di daerah midwest dg. harga cuma $1 (Rp 10 ribuan?)

Soal hutang, memang dari dulu Amerika itu hidup dengan hutang, rakyatnya pun beli apa-apa berhutang (mortgage, credit-card, student-loan, car-loan, dsb., dst.). Tiap tahun saja $100 billion (trilyun) buat perang Irak. Tapi, memang begitulah cara hidup mereka dari dulu dan selama ini masih bisa bertahan. Tapi satu hal yg perlu diperhatikan, masih sangat banyak orang2 kaya menyimpan dan memutar uangnya di AS (dan total nominalnya fenomenal juga). Nah, kalau para investor ini pun cabut dan memindahkan duitnya ke BRIC countries, baru bakal tambah runyam.

Sebetulnya yg. jadi culprit financial crisis di Amrik saat ini cuma satu: overconfident dan greed. Dari th 2002 - 2006 mereka obral habis mortgage, bahkan yg. nggak jelas penghasilannya pun dapat beli rumah, yg. bagus-bagus lagi...Sekarang para taipan financial gigit jari kredit mereka macet. Fundamental ekonomi lain saya amati tidak babak-belur separah mortgage.

Bisnis Energi di AS

Bisnis energi itu jg sdh spt bisnis komoditi. Para hedge fund manager sdh bertransaksi harga minya untuk 6 - 12 bulan ke depan. Minyaknya belum ada, tapi mereka sdh mengontrol harga minyak. Demikian juga energi listrik. Di AS, bisnis energi ini ada marketnya sendiri, mirip
Wallstreet juga. Dan pasar-pasar ini sdh menglobal.

Perusahaan penyuplai listrik (generator) bertransaksi dg provider dalam pasar, dan aliran energi listrik dalam grid dapat disetel dalam hitungan detik sesuai dg hasil jual-beli. Banyak investor bermain-main disini, sehingga dpt mempengaruhi biaya listrik penduduk.

Mengenai bisnis properti di Amerika, sebetulnya secara jangka panjang masih tetap profitable. Dari dulu juga terjadi fluktuasi suku bunga pinjaman mortgage. Di zaman Presiden Reagan interest sempat mencapai puluhan persen.

Intinya, tidak ada sektor yg benar-benar bebas dari 'tangan jahil' para orang kaya. Yang miskin tambah miskin, yg kaya tambah kaya.

Dana Riset harus dari mana?

Dana riset di universitas relatif hanya memakan porsi kecil dari dana R&D di AS. Yg. paling banyak berada di industri (Intel, IBM, Microsoft, Lockheed Martin, Boeing, Boston Scientific, etc. etc.) dan national lab (Fermi Lab, Lawrence Livermore, Sandia, Brookhaven, Oak Ridge, Los Alamos, etc.) atau lembaga pemerintah (NASA, DARPA, dept. energi, Pentagon melalui badan-badan risetnya spt. Navy Research Institute, Army Research dsb).

Mestinya di Indonesia yg. mendrive R&D adalah industri. Tapi hampir tidak ada R&D di Indonesia.

Kuliah gratis via Internet

Kuliah dari Stanford Univ. malah keren banget....video/audionya bisa didownload dari iTune ke iPod secara gratis (beberapa kelas di MIT juga punya, cuma cara downloadnya kurang mantab). Dari kuliah Arts, MBA sampai Quantum Physics....asyik deh (cuma mungkin kalau diakses dari Indonesia bisa ngos-ngosan, file2nya puluhan, bahkan bisa ratusn MB). Apalagi buat orang Jkt yg. habis waktunya berjam-jam di jalan, bisa dimanfaatkan belajar tanpa harus capek baca buku (yg. tidak sehat jika dilakukan di dalam kendaraan yg. bergerak).

Coba kalau ITB atau institusi lainnya bisa punya program & metoda spt. ini buat orang2 yg. sibuk atau jarak-jauh, hebat, banyak rakyat Indonesia yg. (mungkin) bisa lebih menggapai pendidikan bermutu. Tidak perlu kelas sabtu-minggu.

Beda Harga Bensin di Indonesia dan Amerika

Harga bensin di US itu sdh di tax (malah kena tax Federal, State dsb. Kalau tdk salah ada 4 atau 5 jenis pajak dikenakan disitu).

Harga terakhir (di Costco di kota suburb di CA), $1.84/gallon (di bbrp state lain lebih rendah) atau sekitar $0.476/liter. Dg. kurs 12000/usd, sekitar Rp 5720/liter. Harga air sebotol sekitar $1.

Di Indonesia, harga Premium masih Rp 6000/liter (dan ini belum kena pajak), padahal disubsidi. Memang timpang sekali.

Ref: http://www.bphmigas.go.id/p/bphmigaspages/bbm/daftar_harga_bbm.html

Standar Emas

Sebetulnya sah-sah saja ide kembali ke standar emas sbg nilai penukaran. Toh bangsa2 di dunia ini telah menggunakannya selama ribuan tahun. Hanya 60-80 tahun terakhir saja sistem fiat berlaku. Penolakan standar emas diawali oleh inggris (yg. cadangan emasnya hampir habis untuk biaya perang dunia I dan II), lalu diikuti AS dan Jerman (yg. juga kepepet, gara2 cadangan emas mereka habis buat biaya PD II).

Ide standar emas dinar sebetulnya sempat juga dicetuskan oleh PM Malaysia, Mahathir Mohammad, di th 2000'an. Cuma sayangnya tidak terealisasi. Mantan kepala bank sentral AS, Greenspan, pun mendukung ide kembali ke standar emas (meski sebelumnya sempat menolak). Secara umum, ide ini dianut sejumlah ekonom Austria.

Memang betul tidak gampang mencetak uang kertas, tetapi bermain-main dg. nilainya mudah dilakukan (kecuali untuk beberapa negara, misalnya Nigeria kalau tidak salah. Ada foto2 orang makan ke restoran saja harus bawa uang satu becak!). Di AS, pemerintah federal saat ini "mengobral" surat obligasi (government bond) tanpa fondasi kuat (misalnya dengan emas). Dengan nerace defisit yang sdh di garis merah, bagaimana negeri itu dapat membayar hutangnya? Contoh lain, beberapa kali devaluasi yg. dilakukan rejim Soeharto.

Mencetak uang tanpa kontrol tentu akan menyebabkan inflasi parah. Ketika jumlah uang yg. berputar dalam ekonomi berlebihan, nilainya akan turun. Banknotes sendiri tidak ada nilainya (hanya kertas). Yg. menentukan kan tentu pemerintah. Tentu kita akan bertanya-tanya, standar apa yg. digunakan pemerintah dalam memberikan nilai pada suatu uang kertas (dan tentu bukan dengan menambahi/mengurangi nolnya).

Akan menarik menganalisa implikasi dan dampak kembalinya emas sbg. standar dalam ekonomi (yg. kemungkinan besar ditentang oleh IMF).

Biaya resesi

Pemerintah amerika telah dan akan mengalirkan dana 8.7 trilyun USD untuk memerangi resesi saat ini.
Sebagai perbandingan, nilai itu lebih tinggi dari semua biaya yg. dikeluarkan amerika serikat (setelah disesuaikan dg. nilai saat ini) untuk perang Vietnam, perang Irak, perang korea, biaya ke bulan, biaya buat NASA, Marshal Plan (u/ membantu eropa setelah PD II) dan membeli negara bagian Louisiana dari Perancis.

Luar biasa. Dana ini (lebih dari Rp 87000 trilyun dg. kurs Rp 10.000) lebih dari cukup untuk membuat Indonesia menjadi negara industri dan membiayai rakyatnya tujuh turunan dan membuat ITB jauh lebih hebat dari MIT ! :-P

Sumber: http://news.yahoo.com/s/politico/16620

Vaksinasi berbahaya?

Di majalah TIME tempo hari pernah dibahas soal meningkatnya jumlah orang-tua di Amerika yg. menolak anaknya divaksinasi. Alasannya macam2, tetapi sebagian beranggapan karena beresiko menyebabkan autisme.

Sekarang ini departemen kesehatan Amerika masih meneliti kaitannya. (http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/vaccines.htm)
Tapi kalau melihat juga akibatnya kalau tidak divaksinasi, mungkin masih lebih baik divaksinasi.

Free-will semu

Free-will di Eropa masih dipertanyakan:

  • Ketika pelajar wanita ingin berkerudung (jilbab), mereka tidak diperbolehkan di sekolah2 umum di Perancis.
  • Coba saja kalau berani mempertanyakan soal holocaust di eropa. Siap2 di penjara atau paling tidak didenda. Free-will apa ini?

Madzhab terkini para Fisikawan

Ngobrol soal "theory of everything", apa itu "Realitas" dan "ruang-waktu" memang menggelitik pikiran dan membuat neuron jadi kusut [seperti juga string theory] :-)

Ada buku bagus dan ditulis secara populer oleh seorang fisikawan Brian Greene: "The Fabric of Cosmos" (http://www.amazon.com/Fabric-Cosmos-Space-Texture-Reality/dp/0375412883). Menarik sekali. Dalam satu ilustrasinya, ia mengatakan bahwa time is reversible (dia memberi contoh seorang yg. membuat telur mata-sapi. Pecahan2 cangkang telur dan cipratan telur secara teori dapat dimainkan terbalik [seperti VCR reverse-playback], dan ini tidak melanggar hukum fisika).

Penemuan lain Muslim

Saya sempat nonton film lainnya, bertema mirip. "The Empire of Islam" buatan PBS (see http://www.netflix.com/Movie/Islam_Empire_of_Faith/60021655?trkid=222336). Dibuat dg. kualitas hollywood, film dokumenter ini menggambarkan hasil kreasi ilmuwan, teknolog dan seniman muslim dari sejak abad 7M. Bagus sekali. Kalau tidak salah, kisah ibn Haytham ini ada juga disitu.

Ini daftar sejumlah penemuan yg. dilakukan ilmuwan2 muslim tsb:

http://www.independent.co.uk/news/science/how-islamic-inventors-changed-the-world-469452.html

Ternyata sistem giro-bilyet/cek (cheque/check) pun ditemukan ilmuwan muslim dan berasal dari kata "shak"(http://en.wikipedia.org/wiki/Cheque), jauh sebelum barat. Bahkan hal-hal yg. tidak disangka, spt. aturan makan 3-group (appetizer, main course, dessert), robotik, destilasi, konsep taman asri.

Soal Khalifah main pukul, itu khalifah jadi-jadian pastinya..:-) Lebih tepat dipanggil "sultan" atau raja, bukan khalifah. my2c.

Kemajuan Fisika Optika

Beberapa hasil riset fisika optik yang akan mempengaruhi banyak aplikasi....mungkin sampai bisa melihat yg. ghoib2 juga? :-)

Microscope Has 100 Million Times Finer Resolution Than Current MRI

An artistic view of the magnetic tip (blue) interacting with the virus particles at the end of the cantilever.
Scientists at IBM Research, in collaboration with the Center for Probing the Nanoscale at Stanford University, have demonstrated magnetic resonance imaging (MRI) with volume resolution 100 million times finer than conventional MRI. This signals a significant step forward in tools for molecular biology and nanotechnology by offering the ability to study complex 3D structures at the nanoscale.

By extending MRI to such fine resolution, the scientists have created a microscope that may ultimately be powerful enough to unravel the structure and interactions of proteins, paving the way for new advances in personalized healthcare and targeted medicine.

This advancement was enabled by a technique called magnetic resonance force microscopy (MRFM), which relies on detecting ultrasmall magnetic forces. In addition to its high resolution, the imaging technique is chemically specific, can "see" below surfaces and, unlike electron microscopy, is non-destructive to sensitive biological materials.

The researchers use MRFM to detect tiny magnetic forces as the sample sits on a microscopic cantilever - essentially a tiny sliver of silicon shaped like a diving board. Laser interferometry tracks the motion of the cantilever, which vibrates slightly as magnetic spins in the hydrogen atoms of the sample interact with a nearby nanoscopic magnetic tip. The tip is scanned in three dimensions and the cantilever vibrations are analyzed to create a 3D image.

Click here for more information.

NASA-Developed Technique Leads to Cataract Early Detection System

The NASA/NEI probe being tested at the National Institutes of Health. (NASA image)
A compact fiber-optic probe developed for the space program has become the first non-invasive early detection device for cataracts. Researchers from NASA and the National Eye Institute (NEI) have developed a simple, safe eye test for measuring a protein related to cataract formation. If subtle protein changes can be detected before a cataract develops, people may be able to reduce their cataract risk by making simple lifestyle changes.

The new device is based on a laser light technique called dynamic light scattering (DLS) that was initially developed to analyze the growth of protein crystals in a zero-gravity space environment. NASA's Dr. Rafat R. Ansari, senior scientist at Glenn Research Center, brought the technology's possible applications to the attention of NEI vision researchers when he learned that his father's cataracts were caused by changes in lens proteins.

The DLS technique will assist vision scientists in looking at long-term lens changes due to aging, smoking, diabetes, and LASIK surgery. It may also help in the early diagnosis of Alzheimer's disease, in which an abnormal protein may be found in the lens. In addition, NASA researchers will continue to use the device to look at the impact of long-term space travel on the visual system.

"During a three year mission to Mars, astronauts will experience increased exposure to space radiation that can cause cataracts and other problems," Dr. Ansari explained. "In the absence of proper countermeasures, this may pose a risk for NASA. This technology could help us understand the mechanism for cataract formation so we can work to develop effective countermeasures to mitigate the risk and prevent it in astronauts."

Indonesian go-international

Contoh engineer Indonesia yg. berani go international:

http://www.youtube.com/watch?v=WbCW1FUHvUI

Salut buat inisiatifnya. Mestinya harus lebih banyak engineer Indonesia yg. show to the world spt. ini.

Senat vs DPR

Senate di AS mirip2 dengan DPR di Indonesia, sementara HoR = Utusan Daerah (masih ada nggak sih ini?) di Indonesia. Tapi tugasnya agak berbeda.

Beberapa perbedaan:
HoR: punya hak mem-impeach presiden, mengajukan anggaran, masa-kerja (per pemilihan): 4 tahun
Senate: punya hak menyatakan perang, masa kerja 6 tahun
Meski gelar "senator" lebih bergensi dibanding "congressman" or "The honorary", kedua2 punya hak hampir sama.

Senate + HoR = Kongres (MPR di Indonesia).
Sdh umum, kunci utama u/ mengetahui resiko stroke & jantung rendah (tapi bukan berarti tidak mungkin terkena) adalah (ini list dari dokter saya):
- Tekanan darah normal (idealnya sih <> 40, 130/80 masih ok)
- LDL (kolesterol jahat) <>40
- Trigliserid < 200
- BMI (bodd-mass Index) harus diusahakan ideal
- Kadar Lemak rendah
- Tingkat glukosa normal

Semuanya dapat dideteksi lewat lab paling tidak 6 bulan sekali buat yg. berumur >= 40 th.

Kurang tidur, stress, merokok -> menyebabkan tekanan darah naik. Kurang olah-raga menyebabkan HDL rendah (dan melemahkan dinding2 kapiler sehingga lebih rentan pecah akibat tekanan darah).

Dari berita di Yahoo tahun lalu, kurang tidur ( <> 2 s/d 3x lipat.

Makan sayur-mayur & buah, kurangi drastis daging & telur (protein diganti dari tahu, tempeh dan ikan [ikan laut dalam paling bagus]) juga membantu (sdh saya buktikan sendiri sejauh ini, Alhamdulillah cholesterol back to normal). Yg. susah mungkin mengurangi asupan nasi karena makanan pokok rakyat. Resiko terlalu banyak makan nasi adalah meningkatkan kadar trigliserida (selain glukosa naik).

Yg. mungkin relatif lebih susah (terutama di Indonesia) adalah menurunkan kolesterol & trans-fat. Berapa banyak bahan makanan di Indonesia yg. diberi label "trans-fat = 0, cholesterol=0" ? Apalagi yg. di restoran2. Tidak tahu apa yg. mereka masukkan.

Saya sempat baca di suatu site kesehatan, olah-raga teratur 30 menit tiap hari lebih baik dibanding olah-raga berat (>1 jam) seminggu sekali. Jalan kaki/naik sepeda ke kantor tiap hari pasti lebih baik dibanding naik mobil (dan stress karena macet di jalan). Juga, kehidupan keluarga yg. sejahtera menurunkan resiko jantung.

Ahli barat menyarankan meminum red-wine segelas sehari sebagai pencegah penyakit jantung. Namun, buat muslim ini bukan pilihan, tapi ada satu pilihan lain yaitu ganti wine-nya dengan minum kopi/teh tiap hari satu menurut riset mutakhir, caffeine menurunkan resiko stroke tipe 1 (http://www.medscape.com/viewarticle/576548) dan menurunkan resiko alzeimer/dimensia. Memang wine dalam kadar rendah punya dampak positif, tapi dampak negatifnya lebih besar.

Buat mengukurnya secara kuantitatif, kita list semua resiko2 diatas dan diberi point. Besar point buat masing2 resiko berbeda-beda (bisa di-google). Kalau pointnya kecil, kita bisa bersyukur. Ada sejumlah web yg. bisa secara otomatis menghitung resiko dan mentrack progress berdasarkan parameter2 diatas.

Memang susah mau hidup sehat.

Makanan Asing atau Domestik?

Orang-orang Indonesia sekarang ini sudah mulai banyak yang meninggalkan makanan tradisional sehat dan menggantinya dg. menu-menu asing yg. tidak sehat (padahal oleh warganya sendiri sudah mulai ditinggalkan). Gado-hado, karedok, lalapan, ikan-ikanan, tahu, tempeh, semuanya itu mantap buat kesehatan.

"Makanan asing yg. tidak sehat" (banyak trans-fat, high Kal, hi chol, dsb.), tentu yg. sehat-sehat kita ikutin. Lagian sayuran masih relatif lebih murah dibanding lainnya. Makanan indoneia juga banyak yg. tidak/kurang sehat dan perlu dihindari (tapi repotnya, yg. tidak sehat itu banyak yg. mak-nyus dan bikin air liur menetes).

Ini nemu ebook di google (thanks Google!) yg. cukup menarik (buat mas AA, di hlm 30 ada soal dampak negatif alcohol):

http://books.google.com/books?id=M1tS6s9JcbMC&pg=PA3&lpg=PA3&dq=stroke+statistic+by+country&source=web&ots=nN4XezX0L9&sig=RB6I_v8VG5w_74h0iRVACkqL90g&hl=en&ei=3NaZSbXiPJK2sAPUovVz&sa=X&oi=book_result&resnum=9&ct=result#PPA30,M1

Yg. ini menarik:
  • Resiko kena jantung hampir 2x dibanding yg. sdh menikah (dan bahagia, tentunya). Makanya yg. masih perjaka, cepetan nikah biar lebih sehat. Perlu penelitian lebih jauh, apakah dg. menikah lagi (polygamy) resikonya akan turun atau naik. Kalau secara fisika sih, makin banyak istri makin sehat yah?:-D (reasoning blo'onnya: satu istri -> resiko=0.5, istri=2 ->resiko 0.25, istri=3 ->resiko=0.125, istri=tak berhingga -> resiko=0) ?
  • Pensiunan beresiko 2x dibanding yg. sdh kerja (mungkin maksudnya dibanding kerja yang enjoyable tidak tidak bikin stress, misalnya jadi dosen...(?).

Buat yg. duduk melulu (sedentiary), beware, resiko sakit jantung ternyata hampir sama dg. perokok (site yg. sama, hlm. 31). Benar kalau ada yg. bilang di milis ini orang2 yg. hidup sederhana dan bukan kerja kantoran, relatif lebih sehat. Mungkin karena mereka banyak kerja fisik?

Buah Anggur

Memang betul bahwa wine dalam kadar moderat positif buat jantung. Tapi buat saya pribadi, karena alasan agama yg. melarang minuman beralkohol (kalo dalam Al-Qur'an, disebutkan arak punya dampak positif juga, tapi negatif [mudharat]nya lebih besar), saya pilih buah anggur merah/gelap (jangan pilih yang ijo, efeknya kurang). Toh, efeknya kurang-lebih sama (http://www.mayoclinic.com/health/food-and-nutrition/AN00576).

Mengenai orang Perancis lebih slim, apa mungkin juga karena diet mereka lebih baik? (jadi ingat film Ratatouille...). Diet orang-orang amerika banyak yg. junk food, belum lagi porsinya, yang kate orang betawi, "naujubile" (1 porsi mereka bisa buat 2-3 orang Indonesia).

Lagipula, buah anggur tidak bikin mabuk, jadi bisa lebih selamat kalau lagi nyetir (kecuali kalau nyetirnya sambil makan buah anggur :-). Yang saya belum pernah dengar dampak positif/negatifnya adalah Balsamic Vinegar (cuka merah). Balsamic vinegar ini hasil fermentasi alami red wine menjadi cuka (menjadi halal). Apakah efeknya serupa?

Dosen "Fun"

Kata orang, dosen yg. hebat dan pandai itu kalau bisa membuat mata kuliah rumit menjadi mudah dan disenangi mahasiswanya.

Richard Feynmann (pemenang nobel fisika) adalah salah satunya (http://www.youtube.com/results?search_type=&search_query=richard+feynman+lecture&aq=0)

Kritikan terhadap ITB

Kritikan Wapres cukup tepat juga.

BANDUNG, SENIN — Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla meminta pertanggungjawaban sivitas akademika Institut Teknologi Bandung (ITB) terkait dengan pengelolaan sektor perhubungan dan energi di dalam negeri. Pasalnya, banyak alumni ITB yang menjadi menteri dan pejabat di dua sektor tersebut.

Demikian disampaikan Wapres Kalla saat memberikan sambutan di acara Sidang Terbuka, peringatan Dies Natalis ke-50, dalam rangka Ulang Tahun Emas Institut Teknologi Bandung (ITB) di Auditorium Sabuga Kampus ITB, Bandung, Jawa Barat, Senin siang. Acara dihadiri oleh Mendiknas Bambang Sudibyo, Rektor ITB Prof DR Djoko Santoso, dan jajaran senat ITB.

Sejumlah alumni ITB yang sekarang menjadi pejabat tinggi hadir di antaranya Mensesneg Hatta Radjasa, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menhub Jusman Safeii Djamil, dan Ketua Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh dan Nias Kuntoro Mangkusubroto.

Dalam catatan Wapres, di kabinet Indonesia Bersatu sekarang ini tercatat ada tujuh menteri alumni ITB. Mereka adalah Hatta Radjasa, Purnomo Yusgiantoro, Jusman Safeii Djamal, Aburizal Bakrie, Jero Wacik, Rahmat Witoelar, dan Kusmayanto Kadiman.

"Jadi kalau ada jalanan macet, kecelakaan, dan lainnya ITB harus direformasi. Juga di bidang energi, dipegang oleh alumni ITB. Demikian juga Pertamina dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Akan tetapi, mengapa minyak kita produksinya terus turun? Dan, mengapa juga listrik kita sering padam?" tanya Wapres.

Bahkan, menurut Wapres dalam sejarah RI dua Presiden RI adalah alumni ITB, yaitu Ir Soekarno dan Prof Dr BJ Habibie. "Jadi, kalau negara ini gagal, saya minta pertanggungjawaban ITB," lanjut Wapres, disambut tepuk tangan undangan yang hadir.

BUMN atau non-BUMN

Sebetulnya sah-sah negara punya BUMN. Di Amerika yg. kapitalis pun, suatu negara bagian bisa punya saham di perusahaan swasta (dan bisa bikin bangkrut negara. Beberapa state di US skrng ini lagi diambang kebankrutan karena terlalu banyak narok duit di bond).

Yg. repot (terutama kasus2 di Indonesia) adalah, kalau terlalu banyak campur tangan pemerintah dalam menjalankan BUMN tsb. Terjadi conflict of interest, mau mendahulukan perusahaan atau negara/rakyat?

Kalau menurut saya, mungkin lebih tepat kalau model bisnis diganti dengan semi-BUMN (dijual saja 30%-40% sahamnya). Pemerintah masih menjadi majority stakeholdernya. Paling tidak, ada balance of interest dan kontrol. Orang-orang pemerintahan cenderung complacent dan incumbent kurang memikirkan growth. Orang swasta cenderung memikirkan growth saja, tanpa memikirkan kepentingan umum (contohnya, mana mau mereka invest di daerah2 yg. masih 'kering' uang?)

Ada-ada saja

Ada-ada saja. Kalau di Indonesia mungkin bisa juga dibuka jurusan:
- Pasca sarjana Koes Ploes
- Pasca sarjana Perdukunan
- Pasca sarjana Perkorupsian
- dst...dll.

-------------

LONDON (Reuters) – A university in Liverpool has launched a Master of Arts degree in The Beatles, the city's most famous sons, and called the qualification the first of its kind.

Liverpool Hope University says on its website that the course entitled "The Beatles, Popular Music and Society" consists of four 12-week taught modules and a dissertation.

"There have been over 8,000 books about The Beatles but there has never been serious academic study and that is what we are going to address," said Mike Brocken, senior lecturer in popular music at Hope.

"Forty years on from their break-up, now is the right time and Liverpool is the right place to study The Beatles.

"This MA is expected to attract a great deal of attention, not just locally but nationally and we have already had enquiries from abroad, particularly the United States."

The university said it was the first postgraduate taught course on The Beatles in the United Kingdom, and possibly the world.

The Fab Four were born and raised in Liverpool and went on to become arguably the most successful pop band of all time.

(Reporting by Mike Collett-White, editing by Paul Casciato)


http://news.yahoo.com/s/nm/us_beatles_degree_odd1

Nama Orang Indonesia menjadi nama gedung UC Berkeley

FYI: Keluarga Sutardja aslinya dari Indonesia, sukses mendirikan perusahaan semikonduktor di SV.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Sehat_Sutardja)

http://www.eetimes.com/rss/showArticle.jhtml?articleID=215801035&cid=RSSfeed_eetimes_newsRSS

------------
SAN FRANCISCO—Sutardja Dai Hall, named for the founders of Marvell Technology Group Ltd., opened recently on the campus of the University of California at Berkeley, where it will serve as the headquarters for the Center for Information Technology Research in the Interest of Society (Citris).

The building will house the Marvell Nanofabrication Laboratory, equipped with advanced semiconductor fabrication equipment in two 15,000 square-foot cleanrooms. It is believed to be the first fully equipped 8-inch semiconductor fab line at any university campus.

The building was named for Marvell's founders—Sehat Sutardja, Weili Dai and Pantas Sutardja—in recognition of a donation described as substantially more than $20 million.

Apakah arab dan yahudi satu bangsa?

Arab dan bani israel rumpunnya sama, yaitu semit, tapi bangsanya sdh ribuan tahun berbeda. Jadi tidak bisa disebut satu bangsa.

Mencari arti definitif yg. eksak memang susa., di Wikipedia pun digroupkan ke beberapa jenis (http://en.wikipedia.org/wiki/Arab). Saya ada buku "Jewish Mind" hasil riset prof. Raphael Patai (orang jew juga), disitu disebutkan beberapa macam katagori u/ menyebutkan seorang itu "yahudi". Secara tradisional (mengikuti kitab tradisional "Halakha" mereka), seorang disebut "Yahudi" mengikuti garis ibu/matrilineal).

Di Amerika, orang bukan keturunan yahudi dapat menganut agama yahudi dan diakui sbg. yahudi, sementara di negeri lain akan berbeda (bergantung alirannya). Contohnya, Madonna adalah keturunan itali, tapi menjadi yahudi.

Sementara itu, definitif "arab" pun meluas juga, tidak lagi geneologi, tapi garis linguistik (misalnya negeri2 afrika utara) dan politis.

Jew dan Jawa

Seorang ada yang pernah bertanya "Adakah yang tahu, hubungan antara nama 'Jewish' dengan
'Jawa'...? Mengapa pula ada bahasa pemrograman 'Java'...?"


Karena yg. penemunya itu orang keturunan jawa, atau paling tidak sangat cinta dg. kopi dari jawa. Tiap malam dia begadang bikin program sambil minum kopi tubruk mas parto di Banyumas. :-)


Selain Java sbg. programming language, ada tool "Gamelan", ada suite "Jakarta" (see: http://jakarta.apache.org/). Ada juga "JavaBeans". Sayangnya, semuanya ditemukan bukan oleh orang Indonesia, dan asosiasi namanya selalu ke "kopi" (memang "Gamelan" & "Jakarta" ada hubungannya dengan kopi?). Indonesia tidak ikut tenar dengan penggunakan nama2nya. Mestinya nama2 di Indonesia di-patent-kan, biar orang tidak sembarangan menggunakan.

Yg. jelas, kata "jawa" tidak ada hubungannya dengan kata 'Jew'. Jew itu khan kalau dalam bhs Inggris, dalam bahasa jerman "Jude", arab: "Yahudi", hebrew: Yehudi, perancis: "Juif", latin: ieudeus. Semuanya berakar dari aramaik (!) atau hebrew: Yahuda/Yehudi atau Yudah atau Judas. Sebelum nama "jawa" ditemukan, sudah ada kata "jew" (mungkin dalam bhs. inggris kuno/latin, tapi mirip2lah). Kata "Jawa" bukannya dari kata sanskerta "java dvipa"?. Ada yg. bilang "jawa" itu kependekan dari nama tanaman "Jawawut". Ada yg. lebih tahu?

Apakah bangsa Yahudi cerdas?

Orang jew yg. cerdas hampir semuanya dari group Ashkenazi (eropa timur). Yg. Sephardi dan Mizrahi (yahudi arab) dan lama tinggal di timteng biasa2 saja. Ini kalau menurut beberapa riset yg. telah dilakukan mengenai "Jewish Intelligence".

Beberapa ahli mengatakan (tapi dibantah ahli2 lainnya), bangsa Ashkenazi ini pernah mengidap penyakit kelainan gen di abat 18-19, dan akibatnya menyebabkan terjadi beberapa mutasi gen pada otak mereka. Menurut hasil mutakhir, penyakit ini tidak ada hubungannya dengan intelegensia mereka. Yg. banyak diterima oleh masyarakat soal kecerdasan Ashkenazi ini adalah, mereka dapat mencapai itu karena "survival of the fittest" dan tradisi belajar yg. sangat ketat dari masa kanak2. Sejak kanak2, mereka dididik untuk cinta ilmu, belajar paling tidak dua-bahasa (bahasa lokal dan hebrew).

Kalau mau lihat rata2 ranking IQ bangsa2: http://en.wikipedia.org/wiki/IQ_and_the_Wealth_of_Nations
(IQ bangsa2 asia-timur itu top-5 deh...tapi secara qualitatif mereka kalah dg. yahudi dalam menghasilkan sesuatu yg. diakui dunia. Padahal ratio populasi sangat berbeda. Mengapa?)

Breeding calculation

Seorang ada yang menyangsikan bahwa mustahil seorang Ishaq dan Ismail dapat menghasilkan dua bangsa yang berpopulasi jutaan orang.

Sebetulnya, tidak ada yg. aneh dg. breeding theory yg. mendasari ada jutaaan yahudi & arab itu berasal dari beberapa gelintir jiwa.

Hitungan kasar dengan binary tree:
Generasi 1: 1 anak (Yehuda) = 1 jiwa
Generasi ke 2: Anggap Yehuda punya 2 anak = total 2 jiwa
Generasi ke 3: Tiap anak2nya Yehuda punya 2 anak -> 4 jiwa
Generasi ke 4: Tiap ket. punya 2 anak -> 8 jiwa
dst....
generas ke-n: 2^(n-1)
Anggap tiap generasi memakan waktu 30-tahun (assume there is age overlap). Dalam 3000 tahun: 100 generasi
Total jiwa: 2^99 = 633,825,300,114,114,700,748,351,602,688 (lebih dari jumlah penduduk bumi....!)
Atau dg n = 30 saja sdh 1,073,741,824.

Angka akan turun dengan adanya perang dan aspek mortalitas lainnya, tapi tetap dapat menjelaskan (roughly) kenapa manusia bisa berkembang-biak jadi banyak meski cuma dari 1 pasang manusia (kecuali kalau dalam 100 generasi tsb. semuanya tidak punya anak atau anaknya selalu satu, tapi katanya orang2 dulu itu kawin dg. banyak wanita....yah terkompensasilah :-).

Kalau mau lebih canggih, pake teori markov, dynamic theory, stokastik, atau game theory dan apalah lainnya.

Asal yahudi

Seorang rekan menyangsikan bahwa bangsa yahudi dan arab sebetulnya berasal dari satu saudara kandung. Ia mengatakan, paling pentolan atau kepala sukunya saja yang keturunan yahudi, sisanya para orang asing yang mengaku-aku.

Saya mengatakan, reasoning itu kurang kuat dan akurat. Dari mana ia menarik kesimpulan kepala sukunya keturunan Yehuda dan keturunannya bukan keturunan Yehuda?

Dari aturan "Halakha" (UUresmi Yahudi tempo dulu/orthodoks/konservatif), seorang hanya boleh diakui berdarah yahudi jika ibunya atau kedua orang-tuanya berdarah yahudi. Aturan ini telah ribuan tahun dianut bangsa Israel (ref: "Jewish Mind" [Patai, Raphael]). Karena ketatnya aturan siapa-itu-yahudi, maka sulit orang bukan yahudi mengaku berbangsa yahudi (kecuali terakhir-akhir ini). (Raphael Patai adalah salah satu antropolog top dalam soal arab/yahudi. Bukunya "Jewish Mind" & "Arab Mind" menjadi standar buku di Pentagon buat tentara yg. dikirim ke Timteng. profile pengarang: http://en.wikipedia.org/wiki/Raphael_Patai)

Di dalam buku "Jacob's Legacy: A Genetic View of Jewish History" karya David B. Goldstein (pakar genetika) pernah melakukan riset gen yahudi dan menemukan keserupaan yg. sangat mirip, dan juga keterkaitan dg. Yacob (nabi Ya'kub). (profile si pengarang: http://www.genome.duke.edu/people/faculty/goldstein/)

Di buku "DNA and Tradition: The Genetic Link to the Ancient Hebrews" [Yacob Kleiman: Devora Publishing, 2004], disebutkan bahwa kohanim (satu kelompok di bangsa Yahudi, keturunan Kohen/Cohen) terbukti secara genetik keturunan dari Aaron (nabi Harun). Dari riset DNA yg. dilakukan si pengarang (seorang pendeta Yahudi dan genetis), ditemukan bahwa 98.5% orang2 kohanim yg.ditest (sampelnya dari Israel, Inggris dan Amerika Utara), ditemukan memiliki tanda YAP (Y-chromosom Alu Polymorphism) yg. hampir identik (saya kurang paham ilmu genetika apa maksudnya YAP ini). Di bab 5 buku ini dibahas juga definitif apa itu suku "Yahudi" dan Levi"

Yang masih kontroversial adalah suku Ashkenazi (group dalam bangsa yahudi). Sebagian kercerdasan (kejeniusan) keturunan suku ini berada di dalam DNA mereka, sementara antropolog dan pakar genetik lainnnya menyangsikannya. Mereka masih melakukan riset berkenaan dengan ini. FYI, mayoritas pemenang nobel ket. yahudi dan ilmuwan top dunia lainnya berdarah Ashkenazi.

Kalau tertarik lebih jauh, silakan merujuk buku2 tsb. (bisa dipesan di Amazon, entah kalau dikirim ke Indonesia).

Asal-usul Suku-bangsa

Beberapa waktu lalu saya sempat jalan-jalan ke California Academy of Science di San Francisco. Satu hal yg. sangat menarik perhatian saya adalah peta "gene mapping" perjalanan manusia di bumi. Di peta tsb. disebutkan "mitochondrial Eve" lineage (Siti Hawa "Mitrokondria" ) yang traceable dan dimulai dari suatu tempat di sekitar negara Somalia/Ethiopia 200 kya (kilo-years- ago). Migrasi kemudian bergerak ke arah timur-tengah (tepatnya di sekitar Palestina-Israel) . Dari sini sebagian menyebar ke eropa, sebagian menyebar ke Iran, India, Cina dan asia tenggara lainnya. Penduduk australia berasal dari Indonesia (!), sementara migrasi penduduk rusia dan cina utara ke arah Amerika utara dan kemudian Amerika selatan.

Tidak semua pembuktian antropologi dapat dilakukan dengan gen, tentu saja.
Soal bangsa Israel, mereka keturunan Izrel (atau Izrael) anak dari Yehudah (atau Yudah atau Yudas) anak ke-4 dari Ya'qub A.S.

Di Encylopaedia of Britannica:

"The term Jew is thus derived through the Latin Judaeus and the Greek Ioudaios from the Hebrew Yĕhūdhī. The latter term is an adjective occurring only in the later parts of the Old Testament and signifying a descendant of Yehudhah (Judah), the fourth son of Jacob, whose tribe, together with that of his half brother Benjamin, constituted the Kingdom of Judah."

Kalau mau lebih detil, bisa lihat literatur sejarah dan antropologi timur-tengah dan arab. Di situ malah family-tree dari Ibrahim sampai beberapa generasi dituliskan (lengkap dengan sejarah, tahun lahir dan lain-lain). Knowledge is edgeless, we just need to keep learning!

Wednesday, September 09, 2009

Religius Hate Crimes on the rise in US

(SOUTHFIELD, MI, 9/9/09) - The Michigan chapter of the Council on American-Islamic Relations (CAIR-MI) today called for state and federal hate crime charges against assailants who allegedly attacked members of a Muslim family in Ann Arbor yesterday.

According to the family, a group of assailants began hitting a 16-year-old Muslim student of Iraqi heritage who was riding on a school bus. During the attack, the attackers reportedly shouted “F*** Arabs, they are dirty,” pulled off the girl’s Islamic headscarf (hijab), dragged her to a nearby home, and inflicted injuries that required six stitches on her face. The victim’s brother was also attacked while trying to come to her defense. (Ann Arbor Police Case #09-7087)

SEE: Arraignment Put Off for Two Men Accused in Assault on Pleasanton Cabdriver

In late August, CAIR reported an apparent bias-motivated attack on Muslims in New York. The FBI now says it is monitoring that case.

SEE: Feds Monitoring Apparent Bias Case Involving Muslims (NY Newsday)

CAIR also recently reported that anti-Iranian graffiti was scrawled inside a Muslim-owned store in Philadelphia that was ransacked by vandals.

SEE: Vandalism at Penn. Business Probed as Hate Crime
SEE ALSO: Philadelphia Muslim Store Target of Apparent Hate Crime

Thursday, July 30, 2009

Why Germans are still Racists

A young pregnant muslim woman of Egyptian origin was killed in courtroom, while her husband was severely hurt. The woman was in the court for appeal a racial slures and religion hatred made by a young german man.

This terrorist act is so sad and regive Germany as a racist nation to muslims as it was as a NAZI nation to jewish people. Beware of visiting Germany, especially for muslims.

News were mostly not reported by western media (as usual!), compare that to Neda, the Iranian woman who was killed during Iranian election and became first-page news in western media.

But it can be found here:

http://en.wikipedia.org/wiki/Death_of_Marwa_El-Sherbini

http://id.wikipedia.org/wiki/Marwa_El-Sherbini

http://www.arabnews.com/?page=7&section=0&article=124569

http://muhsinlabib.wordpress.com/2009/07/13/iran-abadikan-martir-jilbab-marwah-sherbini-sebagai-nama-jalan/

http://www.youtube.com/watch?v=4lSmIcEbCHQ

Thursday, July 02, 2009

Please consider my proposal .

Dear Friend,

As you very well know, Iraq is gradually undergoing a rebuilding process in some parts and there is much need for reconstruction. I am John England from the hospitality state (Mississippi), an army contractor attached to the US Military force for the sole purpose of reconstruction works in some parts of Iraq. I evaluate the level of destruction and offer professional advice inline with the way they
intend rebuilding. With no doubt, work has been risky and challenging as we sometimes collide head on with armed insurgents and loose some soldiers during confrontation.


On the early hours of 4th September 2008 I lost a friend whom I had known for 12 years during one of these confrontations. It was a very sad day but at about 1100hrs during a normal inspection routine along Haifa Street, built and occupied by the late Saddam Hussein while he was still alive and one of the hide outs of the Al Qaeda and Ayman al-Zawahiri forces. I, along side with 3 soldiers proceeded to a marked site and as I commenced evaluation under close guard by the 3 soldiers, I discovered an unusual bulge in a cellar, which I presumed to be storage room and as I proceeded to have a closer look at it, I kicked a metal covering and found several metal boxes (6 in number) piled on top each other and locked with a padlock.

On forcing the boxes open, we discovered several armored weapons including bullets. One of the boxes was filled with hard drugs (heroine) and two to my amazement was filled with money. On discovery of this money, I and the soldiers for close to 3 hours counted the bundles of the currencies which amounted to about $23.5M.I believe however that all these belongs to the Al Qaeda and Ayman al-Zawahiri forces, and because of this reason, I instructed the soldiers with me to handover all the boxes containing the drugs and amours to our superiors in the US army and agreed to keep the funds to ourselves, so as to help establish ourselves when we return from Iraq. Presently, we have the money hidden in a safe and untraceable location only known to us.


Why I am explaining all our findings to you is to seek for your assistance and immense contribution to the actualization of our dream of getting these funds out from here. We are in desperate need of a reliable and trustworthy person who will receive, secure and protect these boxes containing the money for us until our assignment ends here. Since Iraq is getting unsafe and more dangerous everyday, we cannot afford to leave these boxes here in Iraq for any reason and knowing fully well that these were funds used in sponsoring terrorist attacks on our innocent citizens. We have no idea what could happen next as everything remains inconclusive at this point. This is a true story of what we came across here in Iraq. I intend to include some pictures I took here and my ID's issued by the US army and government for you to know better whom you are dealing with but I will include that in my next email to you. I assure and promise to give you 20% of this fund before sharing with the!
other 3 soldiers when we leave this place. However, you are free to negotiate on what you wish to have as your percentage in this deal. Please assure me of your keeping this top most secret so that my job would not be jeopardized.


My Sincere Regards,
Contact me on my private email john.england007@sify.com
John England.

Wednesday, July 01, 2009

CONGRATULATIONS!!YOUR EMAIL HAS WON ($400,000USD) AUSTRALIAN INTL LOTTERY!!

UNI,24 HIGHER AVENUE HARRIS PARK
GRANVILLE NSW 0152 SYDNEY
AUSTRALIA.

REFERENCE NO:675161724
BATCH NO: 7050470902/126
WINNING NO: GB8102/LP


Dear Sir/Madam,

We are delighted to inform you of your prize release on the 1th JULY 2009, from the Australian Lottery programme.

This is a bonus to promote lotto in Australia Which is fully based on an electronic selection of winners using their e-mail addresses from some site. Your email address was attached to ticket number; 47061725 07056490902 serial number 7741137002 This batch draws the lucky numbers as follows 5-13-33-37-42bonus number 17, which consequently won the lotto in the second category.

You here by have been approved a lump sum pay of US$400,000.00 (FOUR HUNDRED THOUSAND UNITED STATES DOLLARS) in cash credit file ref: ILP/HW 47509/02 from the total cash prize shared amongst eight lucky winners in this category.

All participant were selected through a computer balloting system drawn form Nine hundred thousand E-mail addresses from Canada, Australia, United States, Asia, Europe, Middle East, Africa and Oceania as part of our international promotions program which is conducted annually.

This Lotto was promoted and sponsored by a conglomerate of some multinational companies as part of their social responsibility to the citizens in the communities where they have operational base.

Further more your details (e-mail address) falls within our African representative office as indicated in your play coupon and your prize of US$400,000.00 will be released to you from this regional branch office in Nigeria.

We hope with part of your prize, you will participate in our end of year high stakes for US$1.3 Billion international draw.

HOW TO CLAIM YOUR PRIZE: Simply contact our fiducially agent, REV. MORRISON ANDERSON E-mail address agentmorranderson8@gmail.com OR agentmoore_anderson@rocketmail.com to file for your claim .

Please quote your reference, batch and winning number which can be found on the top left corner of this notification as well as your full name, address and telephone number to help locate your file easily.

For security reasons, we advice all winners to keep this information confidential from the public until your claim is processed and your prize released to you.

This is part of our security protocol to avoid double claiming and unwarranted taking advantage of this program by non-participant or unofficial personnel.

Note, all winnings Must be claimed before the end of this programme; otherwise all funds will be returned as Unclaimed and eventually donated to charity organizations.

Congratulations once again on your winnings!!

PLEASE DO NOT REPLY TO THIS EMAIL. CONTACT YOUR CLAIMS AGENT AT
agentmorranderson8@gmail.com OR agentmoore_anderson@rocketmail.com ANY BREACH OF CONFIDENTIALITY ON THE PART OF THE WINNERS WILL RESULT TO DISQUALIFICATION.

FILL THE BELOW FORM AND FORWARD TO YOUR CLAIMS AGENT.

1. FULL NAME:

2. DATE OF BIRTH:

3.SEX:

4. MARITAL STATUS:

5.CONTACT ADDRESS:

6.TELEPHONE NUMBER:

7.OCCUPATION:

8.BRIEF DESCRIPTION OF
COMPANY/INDIVIDUAL :

9. NATIONALITY :

10. COUNTRY :

11. THE E-MAIL ADDRESS THAT WON:


Congratulations once again on your winning!!!

Yours faithfully,

(Photograph)

Mrs. Carol Sweet
Online coordinator for
AUSTRALIAN LOTTO PROGRAMME,
Sweepstakes International Program.

Thursday, June 25, 2009

Jenis Makanan & resiko Kanker

  • Alkohol beresiko tinggi penyebab kanker mulut, larynx, tenggorokan, saluran makanan, hati, payudara dan usus.
  • Sayuran & buah2an dan makanan kaya serat lainnya menurunkan resiko kanker pencernaan (kanker usus, mulut, tenggorokan dan lambung)
  • Daging merah dan daging yang diproses
  • Daging yang dimasak dengan suhu tinggi (misalnya dibakar): BBQ, sate dsb.
  • Terlalu banyak mengkonsumsi makanan dari produk susu: keju, dsb. dapat menyebabkan kanker prostat
  • Racun Aflatoxin yang ada dalam jamur di kacang dapat menyebabkan kanker hati. Kacang tanah yang disimpan di daerah panas dan lembab (terutama negeri tropis), dapat berjamur dan menghasilkan racun ini.
  • Konsumsi gula buatan (saccharin) berlebihan dapat menybabkan kanker pencernaan.
  • Acar yang dibuat sangat asin dapat menyebabkan kanker perut/lambung.
  • Zat pengawet Nitrosamine di dalam sejumlah daging yang diawetkan.
  • Makanan yg diasap dan BBQ menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon penyebab kanker.
  • - Daging goreng atau bakar pada temperatur tinggi dapat menghasilkan kimiawi amino heterocyclic penyebab kanker usus.
  • Kimiawi Acyrlamide yg. ditemukan pada sejumlah keripik dan chips.


Diet Sehat pengurang Kanker
  • Kurangi daging dan lemak hewani (mentega, krim, keju)
  • Konsumsi 5 porsi buah atau sayuran mentah atau setengah matang setiap hari ( 5 porsi = sekitar 400 gram atau 1 lb)
  • Perbanyak makanan berserat
  • Perbanyak ikan berlemak (salmon, trout, mackerel/sardin)
  • Kurangi makanan asin, gula atau makanan yang manis-manis
  • Perbanyak makan cereal, roti, pasta atau nasi
  • Jangan goreng makanan dan jika menggunakan lemak pada makanan, pilihlah minyak sayur atau minyak zaitun, jangan mentega.
  • Tidak minum minuman beralkohol


Wednesday, June 24, 2009

Highest cancer risk neighborhoods in US

Sorted by the most risky place:

1) Los Angeles, CA: risk factor = 1200 in 1 million
2) Madison Co, Ill: risk factor = 1100 in 1 million
3) Two neighborhoods in Allegheny County, Pa., and one in Tuscaloosa County, Ala.

The least risky ones:

People living in parts of Coconino County, Ariz., and Lyon County, Nev., had the lowest cancer risk from air toxics. The counties with the least toxic air are Kalawao County, Hawaii, and Golden Valley County, Mont.

If we are in an industrial area with a lot of traffic, we are going to be closer to 1100 in 1 million.

The analysis predicts the concentrations of 124 different hazardous air pollutants, which are known to cause cancer, respiratory problems and other health effects by coupling estimates of emissions from a variety of sources with models that attempt to simulate how the pollution will disperse in the air. Only 80 of the chemicals evaluated are known to cause cancer, EPA officials said.

The information is used by federal, state and local agencies to identify areas in need of more monitoring and attention.

The data to be released Wednesday covers pollution released in 2002.

Monday, June 22, 2009

Iranian Elections: The ‘Stolen Elections’ Hoax

by Prof. James Petras


Introduction

There is hardly any election, in which the White House has a significant stake, where the electoral defeat of the pro-US candidate is not denounced as illegitimate by the entire political and mass media elite. In the most recent period, the White House and its camp followers cried foul following the free (and monitored) elections in Venezuela and Gaza, while joyously fabricating an ‘electoral success’ in Lebanon despite the fact that the Hezbollah-led coalition received over 53% of the vote.

The recently concluded, June 12, 2009 elections in Iran are a classic case: The incumbent nationalist-populist President Mahmoud Ahmadinejad (MA) received 63.3% of the vote (or 24.5 million votes), while the leading Western-backed liberal opposition candidate Hossein Mousavi (HM) received 34.2% or (13.2 million votes).

Iran’s presidential election drew a record turnout of more than 80% of the electorate, including an unprecedented overseas vote of 234,812, in which HM won 111,792 to MA’s 78,300. The opposition led by HM did not accept their defeat and organized a series of mass demonstrations that turned violent, resulting in the burning and destruction of automobiles, banks, public building and armed confrontations with the police and other authorities. Almost the entire spectrum of Western opinion makers, including all the major electronic and print media, the major liberal, radical, libertarian and conservative web-sites, echoed the opposition’s claim of rampant election fraud. Neo-conservatives, libertarian conservatives and Trotskyites joined the Zionists in hailing the opposition protestors as the advance guard of a democratic revolution. Democrats and Republicans condemned the incumbent regime, refused to recognize the result of the vote and praised the demonstrators’ efforts to overturn the electoral outcome. The New York Times, CNN, Washington Post, the Israeli Foreign Office and the entire leadership of the Presidents of the Major American Jewish Organizations called for harsher sanctions against Iran and announced Obama’s proposed dialogue with Iran as ‘dead in the water’.


The Electoral Fraud Hoax

Western leaders rejected the results because they ‘knew’ that their reformist candidate could not lose…For months they published daily interviews, editorials and reports from the field ‘detailing’ the failures of Ahmadinejad’s administration; they cited the support from clerics, former officials, merchants in the bazaar and above all women and young urbanites fluent in English, to prove that Mousavi was headed for a landslide victory. A victory for Mousavi was described as a victory for the ‘voices of moderation’, at least the White House’s version of that vacuous cliché. Prominent liberal academics deduced the vote count was fraudulent because the opposition candidate, Mousavi, lost in his own ethnic enclave among the Azeris. Other academics claimed that the ‘youth vote’ – based on their interviews with upper and middle-class university students from the neighborhoods of Northern Tehran were overwhelmingly for the ‘reformist’ candidate.

What is astonishing about the West’s universal condemnation of the electoral outcome as fraudulent is that not a single shred of evidence in either written or observational form has been presented either before or a week after the vote count. During the entire electoral campaign, no credible (or even dubious) charge of voter tampering was raised. As long as the Western media believed their own propaganda of an immanent victory for their candidate, the electoral process was described as highly competitive, with heated public debates and unprecedented levels of public activity and unhindered by public proselytizing. The belief in a free and open election was so strong that the Western leaders and mass media believed that their favored candidate would win.

The Western media relied on its reporters covering the mass demonstrations of opposition supporters, ignoring and downplaying the huge turnout for Ahmadinejad. Worse still, the Western media ignored the class composition of the competing demonstrations – the fact that the incumbent candidate was drawing his support from the far more numerous poor working class, peasant, artisan and public employee sectors while the bulk of the opposition demonstrators was drawn from the upper and middle class students, business and professional class.

Moreover, most Western opinion leaders and reporters based in Tehran extrapolated their projections from their observations in the capital – few venture into the provinces, small and medium size cities and villages where Ahmadinejad has his mass base of support. Moreover the opposition’s supporters were an activist minority of students easily mobilized for street activities, while Ahmadinejad’s support drew on the majority of working youth and household women workers who would express their views at the ballot box and had little time or inclination to engage in street politics.

A number of newspaper pundits, including Gideon Rachman of the Financial Times, claim as evidence of electoral fraud the fact that Ahmadinejad won 63% of the vote in an Azeri-speaking province against his opponent, Mousavi, an ethnic Azeri. The simplistic assumption is that ethnic identity or belonging to a linguistic group is the only possible explanation of voting behavior rather than other social or class interests.

A closer look at the voting pattern in the East-Azerbaijan region of Iran reveals that Mousavi won only in the city of Shabestar among the upper and the middle classes (and only by a small margin), whereas he was soundly defeated in the larger rural areas, where the re-distributive policies of the Ahmadinejad government had helped the ethnic Azeris write off debt, obtain cheap credits and easy loans for the farmers. Mousavi did win in the West-Azerbaijan region, using his ethnic ties to win over the urban voters. In the highly populated Tehran province, Mousavi beat Ahmadinejad in the urban centers of Tehran and Shemiranat by gaining the vote of the middle and upper class districts, whereas he lost badly in the adjoining working class suburbs, small towns and rural areas.

The careless and distorted emphasis on ‘ethnic voting’ cited by writers from the Financial Times and New York Times to justify calling Ahmadinejad ‘s victory a ‘stolen vote’ is matched by the media’s willful and deliberate refusal to acknowledge a rigorous nationwide public opinion poll conducted by two US experts just three weeks before the vote, which showed Ahmadinejad leading by a more than 2 to 1 margin – even larger than his electoral victory on June 12. This poll revealed that among ethnic Azeris, Ahmadinejad was favored by a 2 to 1 margin over Mousavi, demonstrating how class interests represented by one candidate can overcome the ethnic identity of the other candidate (Washington Post June 15, 2009). The poll also demonstrated how class issues, within age groups, were more influential in shaping political preferences than ‘generational life style’. According to this poll, over two-thirds of Iranian youth were too poor to have access to a computer and the 18-24 year olds “comprised the strongest voting bloc for Ahmadinejad of all groups” (Washington Porst June 15, 2009).

The only group, which consistently favored Mousavi, was the university students and graduates, business owners and the upper middle class. The ‘youth vote’, which the Western media praised as ‘pro-reformist’, was a clear minority of less than 30% but came from a highly privileged, vocal and largely English speaking group with a monopoly on the Western media. Their overwhelming presence in the Western news reports created what has been referred to as the ‘North Tehran Syndrome’, for the comfortable upper class enclave from which many of these students come. While they may be articulate, well dressed and fluent in English, they were soundly out-voted in the secrecy of the ballot box.

In general, Ahmadinejad did very well in the oil and chemical producing provinces. This may have be a reflection of the oil workers’ opposition to the ‘reformist’ program, which included proposals to ‘privatize’ public enterprises. Likewise, the incumbent did very well along the border provinces because of his emphasis on strengthening national security from US and Israeli threats in light of an escalation of US-sponsored cross-border terrorist attacks from Pakistan and Israeli-backed incursions from Iraqi Kurdistan, which have killed scores of Iranian citizens. Sponsorship and massive funding of the groups behind these attacks is an official policy of the US from the Bush Administration, which has not been repudiated by President Obama; in fact it has escalated in the lead-up to the elections.

What Western commentators and their Iranian protégés have ignored is the powerful impact which the devastating US wars and occupation of Iraq and Afghanistan had on Iranian public opinion: Ahmadinejad’s strong position on defense matters contrasted with the pro-Western and weak defense posture of many of the campaign propagandists of the opposition.

The great majority of voters for the incumbent probably felt that national security interests, the integrity of the country and the social welfare system, with all of its faults and excesses, could be better defended and improved with Ahmadinejad than with upper-class technocrats supported by Western-oriented privileged youth who prize individual life styles over community values and solidarity.

The demography of voting reveals a real class polarization pitting high income, free market oriented, capitalist individualists against working class, low income, community based supporters of a ‘moral economy’ in which usury and profiteering are limited by religious precepts. The open attacks by opposition economists of the government welfare spending, easy credit and heavy subsidies of basic food staples did little to ingratiate them with the majority of Iranians benefiting from those programs. The state was seen as the protector and benefactor of the poor workers against the ‘market’, which represented wealth, power, privilege and corruption. The Opposition’s attack on the regime’s ‘intransigent’ foreign policy and positions ‘alienating’ the West only resonated with the liberal university students and import-export business groups. To many Iranians, the regime’s military buildup was seen as having prevented a US or Israeli attack.

The scale of the opposition’s electoral deficit should tell us is how out of touch it is with its own people’s vital concerns. It should remind them that by moving closer to Western opinion, they removed themselves from the everyday interests of security, housing, jobs and subsidized food prices that make life tolerable for those living below the middle class and outside the privileged gates of Tehran University.

Amhadinejad’s electoral success, seen in historical comparative perspective should not be a surprise. In similar electoral contests between nationalist-populists against pro-Western liberals, the populists have won. Past examples include Peron in Argentina and, most recently, Chavez of Venezuela, Evo Morales in Bolivia and even Lula da Silva in Brazil, all of whom have demonstrated an ability to secure close to or even greater than 60% of the vote in free elections. The voting majorities in these countries prefer social welfare over unrestrained markets, national security over alignments with military empires.

The consequences of the electoral victory of Ahmadinejad are open to debate. The US may conclude that continuing to back a vocal, but badly defeated, minority has few prospects for securing concessions on nuclear enrichment and an abandonment of Iran’s support for Hezbollah and Hamas. A realistic approach would be to open a wide-ranging discussion with Iran, and acknowledging, as Senator Kerry recently pointed out, that enriching uranium is not an existential threat to anyone. This approach would sharply differ from the approach of American Zionists, embedded in the Obama regime, who follow Israel’s lead of pushing for a preemptive war with Iran and use the specious argument that no negotiations are possible with an ‘illegitimate’ government in Tehran which ‘stole an election’.

Recent events suggest that political leaders in Europe, and even some in Washington, do not accept the Zionist-mass media line of ‘stolen elections’. The White House has not suspended its offer of negotiations with the newly re-elected government but has focused rather on the repression of the opposition protesters (and not the vote count). Likewise, the 27 nation European Union expressed ‘serious concern about violence’ and called for the “aspirations of the Iranian people to be achieved through peaceful means and that freedom of expression be respected” (Financial Times June 16, 2009 p.4). Except for Sarkozy of France, no EU leader has questioned the outcome of the voting.

The wild card in the aftermath of the elections is the Israeli response: Netanyahu has signaled to his American Zionist followers that they should use the hoax of ‘electoral fraud’ to exert maximum pressure on the Obama regime to end all plans to meet with the newly re-elected Ahmadinejad regime.

Paradoxically, US commentators (left, right and center) who bought into the electoral fraud hoax are inadvertently providing Netanyahu and his American followers with the arguments and fabrications: Where they see religious wars, we see class wars; where they see electoral fraud, we see imperial destabilization.

James Petras is a frequent contributor to Global Research.

Tuesday, June 16, 2009

Join me on ooVoo.

ooVoo Invitation Email
See this e-mail in your web browser
ooVoo
Join me on ooVoo!
Hi,
I use ooVoo for free face-to-face video calls - download ooVoo to see me:
Your friend's picture
On ooVoo the video quality is great, and you can have up to six people in a video call.
Download ooVoo
buhadram
You can also have a video call with me without downloading ooVoo.
Start a web video call with me


Regards,
buhadram, buhadram@gmail.com


View in:
English Français Italiano Deutsch Español Português
Polski Русский Български Türkçe עברית عربي
中文(简体) 日本語 한국어  
This email was addressed to mlutfi.coretan@blogger.com, who opted to receive messages from ooVoo.

This email was sent by
ooVoo
44 East 30 Street,
New York, NY 10016
U.S.A.

 

This email was sent by: ooVoo, LLC
44 East 30th Street
New York, NY, 10016,
USA