This is the page where I put my scratches, notes, or to dump anything in my mind. Halaman ini adalah tempat saya menempatkan oret2an, coret-moret dan unek2 saya.
Wednesday, May 14, 2008
Kota Tambal Sulam
Dari segi lalu-lintas, ini semakin parah. Kemacetan dimana-mana. Tidak ada ketertiban dalam mengendara. Semua mau enak sendiri. Ameniti (fasilitas kota), kalau pun ada, hanya di tempat-tempat tertentu dan itu pun umumnya dibangun developer properti swasta sebagian dari plan mereka membangun kompleks mal, shopping center atau apartemen mewah. Ameniti dari pemerintah sangat minim, kecuali di sekitar daerah kantor-kantor pemerintahan (Monas).
Kualitas air ledeng (tidak bisa disebut air minum, karena memang tidak layak diminum) menyedihkan. Tekanan air ke rumah-rumah sangat lemah sehingga banyak penduduk yang memasang pompa listrik untuk menarik air dari pipa PDAM atau memasang pompa air sumur tanah. Tidak saja perumahan, bahkan perkantoran dan hotel-hotel pun menghisap air dalam, sehingga resapan air laut makin jauh menuju selatan Jakarta (rasa air sumurnya terasa payau karena mengandung garam kadar lebih tinggi dibandingkan kadar layak air minum).
Faktor keselamatan dalam pembangunan gedung juga tidak jelas. Kalaupun ada 'building code' ini, hampir tidak ada yang mengikuti. Hydrant hampir semua tidak bekerja (tidak/sedikit keluar air atau karat sehingga tidak dapat dibuka). Jika terjadi kebakaran, pemadam kebakaran harus menyedot dari air kali (yang tidak dapat dibayangkan betapa kotornya). Tidak ada zona larangan parkir merah di trotoar2, yang diperlukan agar mobil pemadam kebakaran dapat merapat sedekat mungkin di tempat kejadian. Jarang terjadi "fire drill".
Yang lebih menyedihkan, gaya hidup orang-orangnya. Sebagian kecil "petantang-petenteng" dengan segala glamornya kemana-mana , seakan-akan mereka hidup di Beverly-Hills atau Manhattan. Sebagian berpacu agar seperti para orang kaya glamor tersebut. Mereka berkejaran dengan gaya hidup borjuis dengan mengunjungi shopping center, mega-store, restoran-restoran, beli baju bagus ini-itu dan hal-hal hedonisme lainnya. Sebagian lagi hidup di kolong-kolong jembatan, di emper-emper jalan bahkan mengemis ke tengah jalan.
Perpustakaan umum (kalau pun masih ada), sangat minim fasilitas. Isinya buku-buku tua dan usang, itu pun dengan jumlah terbatas. Pengunjungnya hanya segelintir. Kalau dibanding dengan perpustakaan negara-negara maju, perpustakaan Indonesia mungkin 50-100 tahun dibelakang. Misalnya perpustakaan di kota kecil Rohnert Park di California (Amerika Serikita) saja. Perpustakaan itu berbangunan cukup mewah, dengan fasilitas koneksi ethernet (gratis bagi anggota perpustakaan, dan keanggotaan tidak dipungut biaya sepeser pun). Bahkan tersedia wi-fi buat yang ingin nge-browse Internet secara nirkabel. Koleksi bukunya cukup lengkap untuk ukuran kota yang hanya berpenduduk 30 ribuan jiwa. Tersedia interkoneksi perpustakaan tsb. dengan perpustakaan lain di county (sekelas kecamatan) dan anggota dapat memesan buku tersebut agar dikirim ke perpustakaan lokal. Perpustakaan di kota-kota besar seperti Chicago, New York, Boston, San Francisco, atau Seattle bahkan lebih lengkap dari itu.
UU aturan membangun tempat tinggal atau perkantoran hampir tidak ada. Setiap orang seenaknya sendiri membangun rumah, kantor atau mall tanpa mempertimbangkan kelayakan tata-ruang. Pertokoan bersebelahan dengan perumahan, hotel di tengah perumahan, atau perumahan kumuh di sebelah mall. Jarak antar bangunan sangat minim sehingga hanya membentuk gang-gang sangat sempit, sehingga jika terjadi kebakaran, para penduduk sangat sulit untuk menyelamatkan diri. Lagu Iis Suryani, Gang Kelinci, menggambarkan hal ini bahkan belasan atau puluhan tahun yang lalu.
Lalu lintas Jakarta mungkin salah satu yang terparah di dunia. Tidak ada santun di jalan. Semua orang seenaknya memotong jalan. Tidak ada penghargaan terhadap pejalan kaki. Para pejalan kaki pun seenaknya menyeberang tanpa memperhitungkan keselamatan demi menghemat sedikit waktu daripada menyeberang lewat jembatan penyeberangan. Bus-way yang tidak cocok dengan lebar jalan yang sudah tidak layak. Jumlah kendaraan umum melebihi kewajaran dan jumlah penumpang sehingga sopir bertarung di jalan demi mengejar setoran.
Yang paling menyedihkan dan terparah dari semua itu adalah dihancurkan banyak bangunan bersejarah, baik itu peninggalan belanda atau pun di zaman order lama. Banyak gedung-gedung diratakan dengan tanah dan sebagai gantinya didirikan pertokoan, perkantoran, perumahan atau lain-lain. Lenyap sudah nilai sejarah artifak-artifak yang sebetulnya merupakan sumber devisa dan daya tarik turis asing. Para turis tidak tertarik dengan kemodernan kota Jakarta (mereka pun punya, bahkan lebih bagus). Mereka lebih tertarik dengan hal-hal antik dan bersejarah dari Indonesia.
Sudah selayaknya ibukota dipindahkan ke luar jawa.
Kota dengan tingkat Kecelakaan tertinggi?
Akibat harga BBM, makin banyak warga (dengan ekonomi pincang) terpaksa harus berkendaraan sepeda-motor. Sementara itu, kesadaran lalu-lintas dan keselamatan masih minim. Harga nyawa bagi orang Indonesia masih murah (terus, buat apa capek2 kerja kalau toh harus mati konyol?).
Saturday, May 10, 2008
Sebagian Besar Es di Arktik Meleleh Musim Panas Ini
James Overland, pakar oseanografi dari National Oceanic and Atmospheric Administration, mengatakan, "Musim panas yang lalu, es di utara berkurang dengan kecepatan tertinggi yang pernah dicatat, diduga karena pemanasan global. Walaupun radiasi matahari dan gas rumah kaca di atmosfer kutub sama dengan bagian bumi yang lain, sampai saat ini kawasan kutub merespons secara berbeda."
Kesimpulan para peneliti adalah di utara, pemanasan global dan keragaman iklim alami saling memengaruhi, membawa Arktik ke kondisi baru, dengan berkurangnya lautan es dibandingkan sebelumnya.
Sebaliknya, Overland menjelaskan,"Lubang ozon di Antartika melindungi kondisi benua ini sehingga suhunya tetap rendah di hampir seluruh bagian, kecuali pada semenanjung yang menjorok ke Amerika Selatan.
Es Abadi Kutub Utara Terancam Hilang
Lapisan es abadi di kutub utara mungkin hilang sama sekali tahun ini sesuai prediksi para ahli. Jika kondisi tersebut benar-benar terjadi, kenaikan muka air laut akibat pencairan es besar-besaran tidak dapat dicegah seperti yang ditakutkan selama ini.
Mark Serreze, dari Pusat Data Salju dan Es Nasional (NSIDC) AS, mengatakan musim panas tahun ini diperkirakan ekstrim sehingga dapat menyebabkan lapisan es kutub benar-benar habis. Sejumlah faktor yang mepengaruhi kondisi es kutub utara setahun lalu telah menyebabkan lapisan es di Kutub Utara tahun ini sangat tipis sehingga berisiko saat memasuki musim panas.
Pada September 2007, tebal lapisan es di permukaan perairan Arktik mencapai rekor terendah. Bahkan karena hal tersebut, terusan Utara-Barat yang selama ini beku dan menghubungkan Greenland dan Alaska dapat dilalui kapal. Lapisan es di kawasan tersebut memang menebal kembali saat musim dingin, bahkan pada puncaknya Maret 2008 lebih luas dari cakupan es setahun sebelumnya.
Meski demikian, tren jangka panjang yang diukur sejak tahun 1978 menunjukkan bahwa luas es di Antartika terus menyusut. Kalaupun luasnya bertambah, yang terbentuk adalah lapisan es muda berusia setahun yang lebih mudah meleleh. Sementara itu, lapisan es abadi cenderung terus berkurang. NSIDC mengukur, luas lapisan es abadi di kutub utara rata-rata menurun 44.000 kilometer persegi setiap tahun.
"Inilah hal yang harus mendapat perhatian dunia. Yang paling merisaukan adalah fakta bahwa es berumur tahunan - yang tidak meleleh saat musim panas - tidak pulih secepat es Arktik yang biasanya meleleh," ujar Serreze. Luas lapisan es yang meleleh saat musim panas rata-rata setengah dari es baru yang terbentuk antara September hingga Maret. Namun, pada tahun 2007, hampir semua lapisan es yang baru terbentuk mencair.
Selain itu, pada musim dingin tahun ini terjadi fenomena puncak osilasi Arktik positif. Kondisi tersebut diketahui akan menyebabkan aliran angin kuat yang akan memaksa es abadi di Arktik meleleh dan airnya mengalir ke pantai timur Greenland. Kejadian-kejadian ekstrim seperti itulah yang menyebabkan lapisan es di kutub utara makin tipis dan muda.
Meski demikian, faktor-faktor alam lainnya dapat menyelamatkan lapisan es abadi. Jika tren aliran angin hangat seperti pada musim panas tahun lalu, kutub utara akan kehilangan banyak es abadinya. Namun, jika banyak berembus angin siklon yang bersifat mendinginkan, lapisan es bakal selamat.
Tidak hanya beruang kutub yang ternacma hidupnya akibat perubahan es yang drastis di Kutub Utara seperti digambarkan dalam film "Earth". Manusia juga harus siap menghadapai dampaknya jika muka air laut naik, pasang, dan gelombang besar.
Danau Terdalam di Dunia "Mendidih"
Suhu rata-rata Danau Baikal, danau air tawar terbesar di Asia dan terdalam di dunia yang terletak di Siberia, Rusia mengalami kenaikan lebih cepat daripada kenaikan rata-rata suhu udara di dunia selama 60 tahun terakhir. Hal tersebut menyebabkan nasib hewan-hewan unik yang hidup di perairan tersebut dalam keadaan terancam punah.
Kenaikan suhu di danau tersebut mencapai 1,21 derajat Celcius sejak 1946 akibat perubahan iklim atau hampir tiga kali lebih cepat daripada kenaikan suhu udara global. Hal tersebut dikatakan Marianne More, seorang profesor di Wellesley College di Massachusetts, AS, salah satu penulis dari karya tulis ilmiah yang akan dipublikasikan dalam jurnal "Global Change Biology" edisi Mei 2008.
Danau yang mengalami perubahan temperatus secara cepat itu memiliki 20 persen ikan air tawar yang ada di dunia yaitu sekitar 2.500 spesies yang tak dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Bahkan, di antaranya terdapat satu-satunya anjing laut air tawar.
Jika tren naiknya temperatur tak dapat dicegah, lapisan es dapat hilang seluruhnya dari permukaan danau tersebut.
"Perubahan dari mata rantai bahan makanan juga telah berubah. Jumlah zooplankton multiseluler yang biasanya hidup di air yang jauh lebih hangat telah meningkat menjadi 335 persen sejak 1946, sementara jumlah chlorophyl telah meningkat 300 persen sejak tahun 1979," kata Moore. Selain itu jumlah diatom yang hidup di es yang kemudian mati dan menjadi makanan bagi organisma kecil yang hidup di dasar danau juga makin berkurang.
"Berkurangnya lapisan es akan memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan dengan pemanasan global itu sendiri," tandas Moore. Penemuan tersebut juga berarti hal yang lebih buruk dapat terjadi pada danau-danau yang lebih kecil lainnya. Selama ini, para ilmuwan berangapan volume air yang banyak di danau tak mudah terpengaruh dampak dari pemanasan global, namun kenyataanya sangat rentan.
Sumber : Antara
Friday, April 25, 2008
Centra Ilmu Komputer & Internet
Meski beberapa perusahaan di luar amerika mencoba untuk mengambil-alih dominasi ini (misalnya NEC, Fujitsu, dsb.), tapi pada kenyataannya mereka tidak sukses dan beberapa darinya malah 'terpaksa' membuka R&D dan bekerjasama dengan perusahaan2 di Amerika untuk menciptakan produk baru (contohnya: Sony & Toshiba bekerja sama dengan IBM melakukan R&D chip Cell processor yang digunakan di game console PS3).
Jika kita mengunjungi beberapa kota di Silicon Valley di California, misalnya Palo Alto, Santa Clara, atau San Jose, akan banyak kita jumpai perusahaan-perusahaan R&D ini. Dari mulai Cisco, Juniper, Intel, AMD, Microsoft, IBM (Microsoft dan IBM tidak bermarkas di SV, tapi mereka memiliki kantor R&D di Silicon Valley), Google, Yahoo dan ratusan perusahaan lainnya yang bergerak di bidang pengembangan software, hardware atau riset lainnya.
Dari sisi riset dan akademik, universitas Stanford, UC Berkeley (kedua-kduanya di daerah Silicon Valley) atau MIT, Harvard, U-Penn, Princeton dsb., memiliki kontribusi dan pengembangan hardware dan software komputer dan Internet. Misalnya di dunia sistem operasi kita mengenal "BSD Unix" yang dikembangkan oleh Universitas Berkeley di California (BSD = Berkeley Software Distribution). Sistem komputer "MIPS" ditemukan di Stanford, demikian pula algoritma sistem pencarian Google. Arsitektur komputer Von Neumann (U. Princeton) dan Harvard (U. Harvard).
Penemuan yang revolusioner mungkin adalah Internet dan mikroprosesor. Mikroprosesor dalam bentuk chip pertama kali dibuat oleh Intel memenuhi pesanan perushaan Jepang. Sementara protokol TCP/IP
yang merupakan akar dari sistem Internet dikembangkan atas dana militer Amerika Serikat lewat DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency).
Thursday, April 24, 2008
Zalimnya Pemerintahan Ini
------
Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik utuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan. Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan.
Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. "Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?" tanya saya.
Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua tahun ini menggeleng. "Gak ada minyaknya." Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. "Saya bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya.." Pak Jumari bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang cekung.
"Maaf /dik/ saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami kelak.., " ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi beban hidupnya. Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana. "Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat dia.. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami begini ." Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.
Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang melingkar di leher. "/Dik/, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana , keadaan saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja. " Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh. "/Dik/, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati... mungkin kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah..." Pak Jumari menerawang. Saya tercekat.
Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk. Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat. Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut 'anggaran negara' digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila lainnya. "Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah! "
Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum rakyatnya sendiri.
Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa zalimnya pemerintahan kita ini! Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat. Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya mual dibuatnya.
Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. "Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta." Dia makan dengan lahap. Saya tatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. /Alhamdulillah/ , saya masih mampu menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara. Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup. Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar.
Mudah-mudahan mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabk an di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka masih punya nurani dan mau melihat ke bawah. Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah... Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui konglomerat dan pejabat... Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal...
Amien Ya Allah.
Thursday, March 20, 2008
Membuat Game
Dalam proyek pembuatan game, paling tidak ada 2-3 lead programmer yang benar-benar mengerti hal-hal spt. ini. Sisanya bisa diserahkan ke animator & pembuat storyboard, graphic designer (anak disain & seni-rupa) atau bahkan maniak game (untuk memberikan ide-ide game baru) dsb. Saya yakin, soal seni grafis dan hal-hal yang berhubungan dengan arts, anak-anak Bandung banyak yang jagoan. Tinggal perlu orang bisnis yang mempunyai visi bisnis-berbasis-teknologi spt. ini.
Ini ada satu site bagus sekali yang membahas tentang game programming yanf dibuat salah seorang mahasiswa Computer Science di Stanford University:
http://www-cs-students.stanford.edu/~amitp/gameprog.html
Ada pembahasan tentang mana yang lebih baik untuk game programming (C atau C++). Disitu terlihat betapa 'rumit'nya game programming yah, begitulah untuk membuat game yang bagus (dan mencetak $$) harus spt. ini. Kalau tidak, mana mau Sony (PlayStation) atau Microsoft 'XBox' percaya pada si software house sbg. partnernya :-).
Ada yang perlu digarisbawahi di salah satu page tsb spt. di bawah ini:
The second, however, falls into just being unrealistic in expectations. Starcraft, Everquest and
Quake were all made by teams of professionals who had budgets usually million dollar plus. More importantly though, all of these games were made by people with a lot of experience at making games. They did not just decide to make games and turned out mega-hit games, they started out small and worked their way up. This is the point that anyone who is interested in getting into game development needs to understand and repeat, repeat, repeat until it becomes such a part of your mindset that you couldn?t possibly understand life without this self evident, universal truth.
Until you understand that all skills in game development are learned by experience, (meaning to start very small and working your way up) you will be absolutely doomed to never finish your projects. Even the infinitesimal number of teams that do manage to finish a non-trivial project before they have made any smaller ones have to learn incrementally, it just takes them many times longer than if they had started out with smaller projects.
Atau spt. ini:
Computer game developers work in an industry where 90% of the profit is made from 10% of the products. Or to put it another way, 90% of the products simply die in the marketplace.
Sometimes this is because the products themselves are dreck; There certainly is a lot of
poorly designed, poorly debugged, formulaic, or simply content free products out there. In other cases, good products wither on the vine because they are inadequately marketed, or because they can't get through all of the noise and fluff that's clogging up the distribution chain.
Ahli dalam bidang-bidang komputer grafik ini tidak semata untuk game. Ingat beberapa banyak film dengan bantuan komputer yang pop atau menjadi box-office? (mulai dari Jurassic Park, Jumanji, Titanic, Matrix, Gladiator sampai yang pure CGI spt. Toy Story, Antz, atau yang terbaru: Shrek). Memang untuk bidang ini, lebih banyak pemahaman s/w aplikasi dibanding yang ngejelimet spt. diatas.
(My post to BHTV mailing-list a while ago)
Tuesday, February 05, 2008
Pecinta Bola Lebih Rentan Serangan Jantung
Setelah mempelajari efek pertandingan World Cup 2006, para peneliti menemukan, untuk pria Jerman risiko serangan jantung atau masalah kesehatan jantung lainnya meningkat tiga kali lipat pada saat tim andalannya bertanding. Angka ini 82% lebih tinggi daripada wanitanya. Risiko serangan jantung ini meningkat pada 2 jam pertandingan. Demikian penemuan Dr Ute Wilbert-Lampen dari Ludwig-Maximilians University di Munich dan dikutip detikhot dari Health24, Selasa (5/2/2008).
Dr Ute dan tim melakukan 279 penyelidikan kesehatan terhadap pertandingan sepakbola tim Jerman. Terbukti tingkat risiko serangan jantung bertambah saat bagian tendangan penalti. Saat tim andalan pecinta sepakbola mengalami masa kritis, serangan jantung semakin membayangi mereka. "Enam dari tujuh pertandingan dimana tim Jerman berpartisipasi, berhubungan dengan meningkatnya serangan jantung yang bisa datang kapan saja kepada para penggemarnya dalam periode itu," ujar Dr Ute.Para peneliti menyarankan agar para dokter bisa memberikan dosis yang lebih besar untuk mengatasi hal ini. Terutama ketika sang pasien berencana untuk menyaksikan pertandingan tim sepakbola andalan mereka. (yla/yla)
(Yulia Dian - detikHot)
Wednesday, November 07, 2007
UU gila di Inggris
1. Adalah melanggar UU kalau mati di dalam gedung parlemen.
2. Meletakkan perangko bergambar anggota kerajaan terbalik dianggap pengkhianatan terhadap negara.
3. Di Liverpool, wanida dilarang topless kecuali sebagai penjaga toko ikan tropis.
4. Pie cincang tidak dapat dimakan pada hari natal.
5. Di Scotland, bila seseorang mengetuk pintu rumah anda and memohon pinjam kamar-mandi anda, ia mesti diperbolehkan.
6. Seorang wanita hamil diperkenankan secara hukum melepas hajat dimana saja dia suka, termasuk di atas helm/topi polisi.
7. Kepala ikan paus mati yg. ditemukan di pesisir Inggris secara otomatis menjadi milik raja, sementara ekornya milik ratu.
8. Adalah pelanggaran hukum menghindari memberitahu tukang pajak segala sesuatu yang anda tidak ingin dia tahu, tetapi legal untuk tidak memberitahunya informasi yang anda tidak keberatan dia tahu.
9. Merupakan pelanggaran hukum untuk masuk gedung parlemen dalam baju besi.
10. Di kota York adalah sah untuk membunuh seorang skotland dalam jangkauan dinding-dinding kuno kota, tapi hanya jika ia sedang membawa busur dan anak panah.
Sumber: http://news.yahoo.com/s/afp/20071106/od_afp/britainlawsoffbeat;_ylt=AkXOywl6shQC4MeNs27HDwWs0NUE
Kelihatannya, UU ini berasal dari zaman kuno Inggris dan masih dipertahankan sampai sekarang.
Wednesday, October 24, 2007
Yahoo! News Story - Researcher: Vibrations help slim abdomen - Yahoo! News
(Email address has not been verified.)
------------------------------------------------------------
Personal message:
Tips buat menguruskan perut!
Researcher: Vibrations help slim abdomen - Yahoo! News
http://news.yahoo.com/s/ap/20071024/ap_on_he_me/vibrations_fat
============================================================
Yahoo! News
Friday, October 19, 2007
Yahoo! Health - Muscled out?
Personal message:
Muscled out?
http://health.yahoo.com/nutrition_fitness/miavita/fitnesstip=20030331
| Inactive adults over age 30 lose about 3 - 5% of muscle tissue every 10 years; here's what you can do. Go to the weight room. Strength training prevents the reduction in muscle tissue that causes the body metabolism to slow and makes the bones more vulnerable to conditions like osteoporosis. | |
Friday, July 13, 2007
The cheapest days to buy stuff
I got this from smartMoney:
- Airplaine Ticket: Wednesday morning
- Books: Thursday
- Cars: Monday
- Clothing: Thursday evening
- Department-store: Saturday evening
- Dinner out: Tuesday
- Entertainment (theme parks, etc.): Wednesday
- Gasoline: Thursday before 10 am
- Groceries: Saturday or Tuesday
- Hotel Room: Sunday
Monday, June 04, 2007
NASDAQ Composite Index
Market cap of a company listed at NASDAQ = mv[i] =p[i] * s[i]
where:
mv[i] = The market value of the company
p[i] = the last sale price of the company's stock
s[i] = the total outstanding shares of the company
NASDAQ Composite Index (N.C.I) then = sum(i=1..N, mv[i]*bv/ABPMV)
Where N = total number of companies listed at NASDAQ (which currently is 3121).
ABPMV = Adjusted Based Period Market Value
= (MVA2/MVB1)* ABPMV'
MVA2 = market Value after Adjustment
MVA1 = Market Value before Adjustment
ABPMV' = ABPMV before adjustment
Tuesday, April 24, 2007
Kisah Saritem
Selama ratusan tahun Saritem dikenal sebagai tempat para pekerja seks komersial (PSK). Tidak diketahui secara pasti kapan lokasi ini dijadikan ajang bisnis seks. Berdasarkan literatur dan keterangan beberapa tokoh setempat lokasi ini telah berdiri sejak zaman Belanda. "Kalau kata orang tua-tua, Saritem sudah ada sejak tahun 1838," kata Agusman (53), warga RW 09 kepada detikcom.
Dikisahkan nama lokalisasi Saritem erat kaitannya dengan nama gadis belia asal kota kembang Bandung bernama Saritem. Saritem memang berwajah cantik dan berkulit putih. Pesona Saritem ternyata memikat seorang pembesar Belanda kala itu. Kemudian Saritem dijadikan gundiknya. Sejak itulah gadis Saritem menjadi ‘Nyonya Belanda’. Namanya pun berganti menjadi Nyi Saritem.
Beberapa tahun kemudian Saritem disuruh Kompeni mencari wanita untuk dijadikan teman kencan serdadu Belanda yang masih lajang. Waktu itu daerah Gardu Jati dijadikan sebagai tangsi atau markas militer serdadu Belanda. Untuk kegiatan itu Saritem difasilitasi sebuah rumah yang lumayan besar.
Lambat laun perempuan-perempuan yang dikumpulkan Saritem bertambah banyak. Saritem mengumpulkan perempuan-perempuan dari berbagai daerah dari Bandung dan sekitarnya, seperti Cianjur, Sumedang, Garut, dan Indramayu. Sejak itu nama Saritem mulai kesohor. Yang datang ke rumah yang dikelolanya pun bertambah banyak.
Tidak hanya dari kalangan serdadu yang lajang. Serdadu yang lanjut usia pun juga berdatangan ke tempat Saritem. Bahkan beberapa warga pribumi ada juga yang datang. Antusiasme serdadu dan beberapa masyarakat pribumi terhadap tempat memadu kasih ala Saritem.
Hal ini membuat teman-teman Saritem yang juga menjadi gundik tentara Belanda tertarik membuka usaha serupa. Mereka rata-rata perempuan bekas binaan Saritem. Sejak perang kemerdekaan 1945 tangsi militer serdadu Belanda berhasil dikuasai pejuang Republik Indonesia. Namun, bisnis Saritem tidak tersentuh.
Setelah Indonesia merdeka tempat itu semakin banyak saja dikunjungi tamu. Meski Saritem telah tiada toh tetap saja masyarakat mengenal lokasi itu dengan sebutan Saritem. Selanjutnya rumah-rumah penduduk pun berdiri di sekitar lokasi Saritem. Lokasi Saritem berada di tengah-tengah pemukiman penduduk.
Inilah yang membuat warga kala itu tidak menggubris keberadaan lokalisasi Saritem. Pasalnya, lokalisasi itu telah berdiri lebih awal dibanding pemukiman warga. Bahkan kala itu banyak warga dari berbagai daerah membuka pemukiman di sekitar lokalisasi untuk mengais remah-remah dari bisnis seks di Saritem. Tidak hanya itu, banyak di antara warga yang akhirnya ikut-ikutan menjalankan profesi sebagai mucikari.
Akhirnya bisnis tersebut terus dikelola hingga turun temurun. Tidak semua memang warga di sekitar lokasi yang terlibat bisnis tersebut. "Dari seluruh warga di kawasan Saritem yang menjalankan bisnis ini hanya sekitar 30%. Selebihnya warga menjalankan profesi seperti masyarakat pada umumnya," jelas Masnu, Ketua RW 09. Namun, dia tidak menyebutkan secara konkrit berapa jumlah warga di lingkungannya.
Saritem terletak di tengah kota di antara Jln. Gardujati - Jln. Kelenteng. Tepatnya di RW 07 dan RW 09, Kelurahan Kebonjeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Lokasinya yang strategis tentunya mengundang masyarakat dari daerah untuk tinggal dan berusaha di kawasan tersebut. Hal inilah yang menjadi alasan Masnu kesulitan untuk mendapatkan data konkrit tentang jumlah warganya.
Perjalanan Saritem sebagai obyek wisata seks di Bandung kian hari semakin menambah gerah sebagian masyarakat. Berbagai upaya protes dilayangkan kepada aparat terkait. Hanya saja belum berhasil membuat denyut Saritem terhenti.
Upaya penutupan akhirnya dilakukan tahun 1999 saat Walikota Bandung dijabat Aa Tarmana. Hanya saja penutupan itu tidak berjalan lama. Beberapa bulan kemudian bisnis esek-esek kembali berjalan.
Lagi pula uang yang terkumpul dari beragam retribusi baik yang resmi atau tidak resmi jumlahnya lumayan menggiurkan. Dalam sebulan uang yang terkumpul bisa mencapai miliaran rupiah. Uang-uang haram tersebut sebagian besar mengalir ke kantong-kantong pejabat terkait.
Menurut Agus, calo di lokalisasi Saritem, kamar sewa yang ada di rumah-rumah bordil jumlahnya diperkirakan ada 500-an. Biasanya masing-masing kamar dikenai pajak tidak resmi sebesar Rp 10 ribu kepada oknum petugas.
Dalam sehari Saritem memberi kontribusi ilegal sebanyak Rp 5 juta per minggu. Atau Rp 150 juta per bulan kepada oknum petugas. Itu belum pajak-pajak tidak resmi lainnya. Alhasil upaya untuk memberangus tempat maksiat itu semakin mengendur dan lenyap.
Tetapi, lama-kelamaan sebagian masyarakat Bandung semakin risau dengan keberadaan Saritem dan ketidaktegasan aparat. Masyarakat Bandung merasa imej kota kembang Bandung selalu tercemar dengan keberadaan Saritem. Untuk mengubah persepsi sebagai kota esek-esek sebagian masyarakat sepakat memerangi prostitusi, terutama di Saritem.
Saritem boleh saja lolos dari berbagai perang yang terjadi. Termasuk saat peristiwa Bandung lautan api. Tetapi, kini Saritem tidak bisa mengelak dari regulasi Pemkot Bandung. Setelah terbitnya Peraturan Daerah (Perda) Kota Bandung No. 11/1995 tentang Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (Perda K3). Adanya Perda ini Saritem tidak bisa mengelak dari hukuman "mati";.
Perda itu mulai efektif berlaku November 2006. Esensi dari Perda tersebut adalah melarang setiap praktik prostitusi di Kota Bandung. Dengan efektifnya Perda K3 ini, mau tidak mau, Saritem pun harus bubar.
Vonis mati terhadap Saritem akhirnya dieksekusi, Rabu (18/4/2007). Sebanyak 73 rumah yang selama ini dijadikan tempat prostitusi disegel. Tidak hanya itu aparat juga berjanji akan terus mengawasi kawasan itu. "Kami akan menyebar petugas di lokasi tersebut paling tidak selama seminggu," kata Kepala Satpol PP Kota Bandung Prianan Wirasaputra.
Tetapi, tetap saja penutupan ini masih dirundung keraguan. Soalnya rumah-rumah bordil itu hanya disegel saja. Tidak dibongkar. Besar kemungkinan para mucikari dan warga akan menghidupkan kembali lokalisasi Saritem. Apalagi warga menduga upaya penutupan Saritem hanya bersifat politis menjelang Pilkada 2008 mendatang.
Bila dugaan itu benar tentu semakin membuka peluang Saritem akan beroperasi lagi. Jadi tidak mustahil selepas pilkada 'grasi' terhadap saritem akan dikeluarkan.
Sunday, April 01, 2007
True Global Warming
http://foto.detik.com/index.php/home.readfoto/tahun/2007/bulan/04/tgl/01/time/182139/idnews/761447/idkanal/157/id/2
Sungguh mengerikan. Setelah hujan yang tiada hentinya di Jakarta tempo hari, sekarang Bandung mengalami nasib yang hampir sama. Kemarin saya mengais kembali arsip DVD film saya dan menemukan film "The Day After Tomorrow" yang menceritakan dampak dari pemanasan global ini. Majalah Time edisi minggu ini juga menceritakan makin seriusnya global warming ini.
Sampai kapan kita akan terus terlena dengan tetap membakar fossil dan menghasilkan CO2?
Friday, February 23, 2007
Medieval Muslims made stunning Math Breakthrough
The original news is posted here:
http://news.yahoo.com/s/nm/20070223/sc_nm/architecture_patterns_dc;_ylt=Ano14Vec1dEy.4eq_1p4wNfMWM0F
Geometrical patterns invented by muslim artisans are very complex structure. Muslims invented these more than 500 years ago, long before west did. Only recently (in 70's) some west mathematician found the theory.Very interesting. This is another proof that muslims have contributed a lot in science and engineering.
Monday, February 05, 2007
INDONESIA: NATURAL DISASTERS OR MASS MURDER?
By Andre Vltchek
Another day, another unnecessary loss of lives: 16 people killed and 16 still missing in floods and landslides on a small island Tahuna off Indonesia's Sulawesi.
At an alarming rate, Indonesia is replacing Bangladesh and India as the most disaster-prone nation on earth. Whenever the word Indonesia appears on the list of headlines on Yahoo news, chances are that another enormous and unnecessary tragedy occurred on one of the islands of this sprawling archipelago.
Airplanes are disappearing or sliding off the runways, ferries are sinking or simply decomposing on the high seas, trains crash or get derailed at average rate of one per week, illegal passengers falling through the rusty roofs. Illegal garbage dumps bury under its stinking content desperate communities of scavengers. Landslides are taking carton-like houses to the ravines; earthquakes and tidal waves are destroying coastal cities and villages. Forest fires from Sumatra are choking huge area of Southeast Asia.
The scope of disasters is unprecedented and it is absurd to discount them simply as nation's bad luck or as the wrath of gods or the nature. Corruption, incompetence and simple indifference of ruling elites and government officials are mostly to blame. It is poverty, lack of public projects and kleptomania that kills hundreds of thousands of desperate Indonesian men, women and children.
Since 1965 US-sponsored military coup that deposed Sukarno, installing a military regime of staunch anti-communist and corrupt pro-market Dictator Suharto, Indonesia escapes serious scrutiny by the western media and governments. After Suharto stepped down in 1998, it is being hailed by mass media as emerging and increasingly tolerant democracy.
Some of these disasters are man-made; almost all of them are preventable. At closer scrutiny it becomes obvious that people die due to almost non-existent prevention, lack of education (Indonesia has the third lowest spending on education as percentage of its GDP, after Equatorial Guinea and Ecuador) and savage pro-market economic system which allows enrichment of very few at the expense of the majority which lives under 2 dollars a day.
Conclusions can be terrifying casting light on the way the present-day Indonesian society functions. However, to avoid this exposure would doubtlessly lead to further loss of precious lives of hundreds of thousands of people.
Indonesia is profit-driven to the extreme. It is also one of the most corrupt nations on the face of the earth. And there seems to be no immediate profit to be made from implementing preventive measures. Dams and anti-tsunami walls are almost everywhere considered to be public works and exactly this word - public - had almost disappeared from the lexicon of those who make decisions in Indonesia. Short-term profit for particular group of individuals is given much higher priority than long-term gains for the entire nation. Moral collapse of the nation is reflected in the scale of values: corrupt but rich individuals command incomparably higher respect than those who are honest but poor.
Ferries are sinking not "because of high winds and waves"; they sink because they are overcrowded and badly maintained, or more precisely because they are allowed to be overcrowded and badly maintained. Everything is for sale, even the safety of thousands of passengers. Companies care only about their profits, while government inspectors are mainly interested in bribes. Recent well publicized sinking of Senopati Nusantara killed hundreds of people, but it was just one of hundreds of maritime disasters that occur in Indonesia each year. While there are no exact statistics available (for predictable reasons, Indonesian government makes sure to avoid publishing comprehensive comparative statistics), some maritime routes lose 3 or more vessels a year.
Indonesian airline industry has one of the worst safety records in the world. Since 1997, at least 666 people died in 8 major separate airplane crashes in Indonesia. Some of the pilots are so badly trained that planes often skip off the runway, miss runway altogether or land in the middle of it. Maintenance is another issue: flaps often don't function properly, wheels cannot get in after take-off, seldom changed tires have tendency to blow up upon touch down. It is mystery how do some airplanes -particularly old Boeings 737s flown by almost all Indonesian airlines รข€“ make it through the inspections.
After consulting with local civil aviation officials (who obviously do not want to be identified), your correspondent learned that the navigation systems at several major Indonesian airports are in disastrous state, particularly those at Makassar in Sulawesi and Medan in Sumatra.
On average, there is one deadly train accident every six days in Indonesia, many caused by the lack of gates at its 8.000 level crossings. In comparison Malaysia had no fatal accident for 13 years up to 2005 (last year for which statistics are available).
Despite the fact that Indonesia has relatively small number of cars per capita, its roads are the "most used" of any networks in the world (second only to Hong Kong which is not a country): 5.7 million vehicle-km per year of road network (2003, The Economist World in Figures, 2007 Edition).
Despite this epic congestion and generally slow pace of traffic, 80 plus people die on average every day on Indonesian road, mostly due to the terrible state of the infrastructure and poor law-enforcement, according to The Financial Times.
Earthquakes alone do not kill people. Poor construction of houses and buildings are the culprits, together with the lack of preventive measures and preventive education. It is well known fact that Indonesia is prone to natural disasters; that it is located on so called ring of fire. But the poor can count on no massive public housing projects (like those in neighboring Malaysia), which could withstand earthquakes. Almost each family is on its own: it has to design and build its own dwelling.
Major earthquakes kill hundreds, sometimes thousands of people, leaving hundreds of thousand homeless. At least 5.800 people died and 36.000 were injured on May 27, 2006 during 6.3-magnitute earthquake which hit central Java near historic city of Yogyakarta. Primitive infrastructure, inadequate medical facilities and corruption in distribution of aid are to blame for unacceptably high number of casualties after each major tremor.
Illegal logging and deforestation are the main reasons for the landslides. It is well known who is responsible for the forest fires in Sumatra and elsewhere, but officials are reluctant to make arrests, as those responsible for de-forestation are often rich and well connected in the country where even justice is for sale. There are countless solutions to this problem, including law-enforcement, inspections and attempt to provide alternative means for livelihood to those communities that are so desperate that they are literally forced to participate in digging their own graves by destroying environment that is in return annihilating entire communities.
But almost nothing is done, as illegal logging is huge and lucrative business that can grease hundreds of willing palms.
Last month, dozens of people were killed in landslides and flush floods in north of Sumatra Island, which forced some 400.000 people to flee their homes. In June 2006, floods and landslides triggered by heavy rains killed more than 200 people in south Sulawesi province.
Tidal wave, known as tsunami, killed more than 126.000 people in Aceh province in December 2004. Not only was response of Indonesian government and military forces inexcusably slow and inadequate, large part of massive foreign aid disappeared in corruption. Instead of helping victims, many members of Indonesian military were extorting bribes from relief agencies and destroying precious supplies or drinking water and food in case that bribes were not paid. In a scandalous land-grab sponsored by the government, many victims were prevented from returning to their own land while children were forcefully separated from their parents (who lost birth certificates during the tragedy) and "adopted" by religious organizations; some falling victims to human trafficking. More than two years after this devastating tragedy, hundreds of thousands are living in temporary housing.
Many victims of yet another tsunami, which hit the coast of southern Java in July 17, 2006, are still waiting for any substantial help. At official count, 600 people died, but the real number was almost certainly much higher. Indonesian officials received early warning from Japan but refused to act, later claiming that there was not much they could do, as the area was not equipped with the sirens or loudspeakers.
Indonesia often suffers from some man-made disasters beyond any comprehension and comparison. Recent "mud flood" inundated entire villages right outside Surabaya. It occurred due to inadequate safety procedures of a gas exploration company (co-owned by one of the cabinet ministers). This "accident" displaced more than 10.000 people, covering over 1.000 acres of land with hot mud, destroying the only motorway of Surabaya as well as the major railway line. Garbage buried entire communities of poor scavengers at illegal dumping site outside Bandung. There are many more cases of similar nature, but complete list would require too much space - probably entire book dedicated to the subject.
The question is when will Indonesian people say that enough is enough and when will they demand accountability and justice, exact statistics and concrete blueprint for solutions? In almost any other country, two recent disasters - grizzly sinking of Senopati Nusantara and "disappearance" of Adam Air Boeing 737 with 102 people on board - would be more than enough to force cabinet ministers to resign. In Indonesia, these tragedies are seen (or presented) as yet another misfortune without holding anyone responsible or accountable.
Indonesian press and mass media are reporting each and every disaster in details. But they are failing to establish that what is happening there is extraordinary and intolerable, that there is probably no other major country in the world that is experiencing such unnecessary and devastating loss of human lives due to disasters that are either man-made or easily preventable.
To link enormous number of lost human lives in countless disasters with corruption and socio-economic system is determinately discouraged. Jakarta Post, leading daily newspaper in Indonesia, recently suppressed this commentary, refusing to publish it on its pages.
Since December 2004, Indonesia has lost around 200 thousand people in various disasters, not counting car accidents and military conflicts ranging all over its archipelago. That's more than Iraq lost in the same period of time, more than Sri Lanka or Peru lost during their long civil wars. Indeed, many Indonesians are experiencing life, which is as dangerous and hazardous as that in the war-torn parts of the world. Most of them don't realize it, as comparative statistics are not available or are suppressed.
Indonesia is poor, but it is still in the position to protect some of its most vulnerable citizens. The main problem is that there is no political will. There is plenty of concrete and bricks to build dams and walls against tsunamis, to reinforce the hills around the towns, which are in danger of being buried by the landslides. One just has to look around
Jakarta where dozens of unnecessary new shopping malls are growing in several locations, where kitschy palaces of corrupt officials cover acres of land.
Unwillingness to deal with the problems has roots mostly in corruption. Local companies and officials developed unique ability to make profits from everything, even from disasters and from the suffering of millions of fellow citizens. In simplified terms, corruption is stealing from the public. But when the toll has to be calculated in hundreds of thousands of lost human lives, it becomes mass murder.
Andre Vltchek: novelist, journalist and filmmaker, co-founder of Mainstay Press
(www.mainstaypress.org), senior Fellow at Oakland Institute
(www.oaklandinstitute.org).
He presently resides and works in Southeast
Asia and South Pacific and can be reached at: andre-wcn@usa.net
Monday, January 29, 2007
Pencuri Kue
=============
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara lalu menemukan tempat untuk duduk.
Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu.
Wanita itupun sempat berpikir Kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia! Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir 'Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah ia tidak kelihatan berterima kasih'. Belum pernah rasanya ia begitu kesal.
Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih!".
Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah hati, Jadi kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu.
Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri/subjektif serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya. Orang lainlah yang selalu salah, orang lainlah yang patut disingkirkan, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang selalu bikin masalah, orang lainlah yang pantas diberi pelajaran. Padahal.....??? kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita sendiriyang tidak tahu malu. Kita sering mempengaruhi, mengomentari, mencemooh pendapat, penilaianatau gagasan orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya
Friday, January 26, 2007
--
===============================================
Brought to you by, Cingular Wireless Messaging
http://www.CingularMe.COM/