Tuesday, June 21, 2005

Hokkian (Lanjutan)

Dari beberapa yang saya ketemukan, ternyata ada dua group bahasa Hokkian, pertama adalah "Min Man" yang dipakai banyak penduduk cina di Malaysia, Singapura dan Indonesia. Dialek ini berasai dari daerah selatan propinsi Fujian dan Taiwan dan dikenal sebagai dialek "Hokkian". Dialek lainnya ada "Min Bei" yang mayoritas digunakan di bagian utara propinsi Fujian, terutama di ibukotanya FuZhou.

Beberapa kata yang saya ingat adalah, misalnya dalam angka:

1 = It (Mandarin: Yi)
2 = Jie (Mandarin: Er)
3 = Sam (Mandarin: San)
4 = Su (Mandarin: Si)
5 = Go (Mandarin: Wu)
6 = liu (Mandarin: Liu)
7 = Ci (Mandarin: Qi)
8 = Pat (Mandarin: Ba)
9 = Kaw (Mandarin: Ka)

Misalnya, "Pat-Kwa" berarti "Segi delapan". "Jie Sam Su" (2-3-4), "Go Pek" (500), "Go Ban" (50,000), "Go Ceng" (5000), "Ji Go" (25), dsb.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 100 1000 10000 100000000
Traditional
Simplfied
Formal Trad. (Daxie)
Formal Simp. (Daxie)
Pinyin ling2 yi1 er4 san1 si4 wu3 liu4 qi1 ba1 jiu3 shi2 bai3 qian1 wan4 yi4

Ada beberapa link yang patut dilihat untuk meluaskan pengetahuan tentang dialek ini:

http://my-malaysia.info/hokkien.html

Hokkian

Bertahun-tahun saya mendengar dan mengenali bahasa cina dialek Hokkian yang lazim digunakan di negeri-negeri bagian asia tenggara, seperti Indonesia, Malaysia dan Singapura. Selama ini, bahasa yang menjadi lebih awam di telinga saya akibat seringnya membaca cerita silat karya mediang Asmaraman Kho Ping Ho, ternyata sangat berbeda dengan bahasa cina yang dipakai oleh penduduk cina, terutama cina daratan (mainland).

Beberapa rekan kerja yang berasal dari cina daratan mengatakan, beberapa penduduk Taiwan faham bahasa ini. Iseng-iseng saya cari di Internet, saya temukan kenyataan bahwa letak asal-muasalnya bahasa ini muncul adalah di daerah pantai diseberang pulau Formosa (Taiwan), dan dibawah propinsi Guangdong (Kuang Zhou?). Kata "Hokkian" sendiri adalah berasal dari dialek itu, sementara dalam bahasa mandarin (cina standard), disebut "Fujien" atau "Fukien".

Menurut pendapat beberapa teman asal Cina, terdapat dua penulisan bahasa Cina sekarang ini. Pertama adalah "Cina disederhanakan" yg. dipakai di negeri Cina daratan, dan "Cina Tradisionil" yang mayoritas digunakan di negeri Taiwan. Contohnya, kalimat "Apa kabar" dalam bahasa cina ditulis 如何是你, sementara dalam pengucapannya akan berbeda antara dialek Kanton, Fukkien (Hokkian) dan Mandarin. Kata lain, misalnya 我爱你 (I love you), dalam hal ini kedua-duanya berbunyi serupa "Wo Ai Nie". "Wo" (dengan sedikit tekanan) berarti "saya", "Nie" berarti "kamu". Sementara itu, kata "Terima Kasih" (Thank You) diucapkan sangat berbeda antara dialek-dialek tersebut. Dialek Mandarin mengatakan "Shie-shie", sementara Hokkian mengucapkannya "Kam Sia". Saya menyadari ini saat terbang menggunakan maskapai penerbangan Taiwan (EVA Air). Pramugari di pesawat itu selalu menyampaikan pesan dalam dua dialek (Mandarin dan Hokkian).

Bagi yang akrab dengan cerita-cerita silat karya kenamaan dari median Asmaraman Kho Ping Ho akan mengenali kata-kata "Teecu", "Li-Hiap", "Enghiong", "Sute", "Suhu", "Subo", "Suheng", "Cici", "Koko", "Twa-ko", "Kim-Ci", "Locianpwe", "Kang-Ouw", "Siucai", "Bo-Ceng-li", dan sebagainnya. Semua kata-kata itu berdialek Hokkian dan tidak akan dimengerti oleh mayoritas Cina (yang berbahasa Mandarin).

Kata yang diinggeriskan "Kung-Fu" dalam dialek mandarin disebut Chuan Tou, sementara dalam dialek Hokkian (Fukien/Hokien), disebut "Kun Tao".

Monday, June 13, 2005

Pendidikan di US

Dari rangking yg. dilakukan oleh suatu majalah mingguan, 10 universitas teratas masih diraih US. ITB boro-boro masuk 50 besar, masuk 200 teratas saja tidak. Yg. hebat, Indian Institute of Technology masuk 100 teratas. IIT ini bahkan sudah 'bernama' di US. Perusahaan2 hi-tech kalau mendengar 'lulusan IIT' umumnya lebih tanggap dalam merekrut mereka. Semacam MIT-nya Asia.

Nah, yang negara berkembang kalah jauh dalam pendidikan (terutama pendidikan dasar) adalah dalam segi EQ seperti komunikasi, teamwork, apresiasi thp. usaha murid dan dorongan untuk belajar mandiri. Di sekeolah anak saya (yg. masih TK), sudah diajarkan bagaimana mengemukakan
pendapat, menulis cerita/paper, presentasi di depan kelas, kerja kelompok (teamwork). Mulai kelas 2 atau 3, telah diperintahkan menulis paper riset [tentu dalam skala anak2) dan presentasi di depan kelas, plus memperagakan alat2/benda2 riset mereka!).

Gurunya sangat apresiatif dan komunikatif terhadap murid. Murid yg. 'sangat bagus' dan biasa-biasa sama-sama dihargai pendapat dan kerjanya. Tidak pernah guru mengatakan 'kamu bodoh' dan sebagainya. (kalaupun ada, guru tersebut biasanya akan langsung ditegur keras).

Hasil pendidikan tersebut (yang berhubungan dg. EQ, bukan IQ yg. tinggi seperti di negara-negara semacam Cina atau India) terlihat jelas saat mereka memasuki lapangan kerja.
Rata-rata mereka menjadi manajer thp. bangsa-bangsa lainnya (di tempat kerja). Saya sendiri merasakan perbedaan bekerja dibawah manager asia (memang dari segi ilmu teknis mereka rata-rata unggul) dengan manager amerika (atau didikan amerika tulen).

Ini yg. kita masih ketinggalan sangat jauh. Coba, beberapa banyak sih lulusan ITB yg. lihai menulis paper ilimiah, jago berpresentasi dan pandai memimpin team? Atau open-minded dan apresiatif terhadap bawahan? Satu-dua tentu ada, tetapi kalau secara rata-rata masih
kurang. Belum lagi soal kemandirian (maklum, anak-anak di US itu 'diusir' dari rumah setelah mencapai umur 18 tahun, jadi mereka harus survive, baik dari biaya pendidikan dan biaya-biaya hidup lainnya).

Depresi dan Overwork

Sejumlah riset menunjukkan antara depresi dengan "overwork" (workaholic).
Di Yahoo.com beberapa waktu lalu diberitakan, riset-riset mutakhir menunjukkan resiko penyakit jantung bisa berkali lipat bagi orang yang bekerja lebih dari 40 jam/minggu.

Nah, sekarang tinggal kita sendiri yang memutuskan: penting mana, kesehatan atau duit? Orang banyak duit tapi sakit-sakitan, kebahagiaannya terenggut (belum lagi tambah stress keluar duit melulu buat berobat sana-sini), dan jauh dari keluarga. Kalau orang-orang bule Amriki dalam soal kesehatan sangat cerewet banget dan put it over everything lho. Secara umum, mereka lebih memilih dipecat dibanding harus kerja lembur terus2an.

Kolega saya (orang asia, tepatnya India) kerjanya ngoyo buanget, eh bukan diapperciate malah sering diledeki "does not have life", bla..bla. Sampai satu hari dia jatuh sakit yang katanya spt. kanker paru-paru (walau setelah didiagnose ulang, hanya alergi terhadap polen, yang umum terjadi di California). Tapi hal itu telah memberikan dampak positip mengubah pola kerjanya, tidak lagi lembur-lembur.

Sunday, June 12, 2005

Capitalisme dan Pendidikan

Pertama kali saya ke Amerika Serikat, yg. saya kagumi dan iri bukan banyaknya jumlah mal (lebih banyak mall di Jakarta dibanding San Francisco), bukan juga hi-tech facilitiesnya (lebih maju fasilitas HP di Indonesia secara umum), tapi fasilitas-fasilitas umum dan primer seperti tersedianya air minum (bukan sekedar air buat mandi), sistem drainage, waste & recycling management, dan infrastruktur dasar lainnya (kualitas jalan, pipa gas ke rumah-rumah, dsb.)

Setiap tahun, pemerintah kota mengirimkan laporan ditail kadar mineral, bakteria dan kualitas air minum ini. Bertahun-tahun saya minum air langsung dari ledeng tanpa ada keluhan sakit perut atau apapun (meski terakhir-akhir ini sedikit paranoid dan memasang filter tambahan). Sistem waste nya luar biasa dan tertata rapi. Di kota yg. berpenduduk dibawah 100.000 jiwa spt. di Santa Rosa, gorong2 air tertata dibawah rata-rata jalan-jalan, membawa semua air kotor dari rumah-rumah/apartemen. Setiap minggu mobil sampah datang ke tiap rumah dan mengangkut sampah-sampah (yang diletakkan oleh setiap pemilik rumah di tempat sampah beroda setiap minggu di depan jalan), didekompos dan disimpan di tempat tertentu yang tidak mencemari kali/sungai-sungai atau danau-danau.

Lalu, mungkin ada yg. bertanya, apa hubungannya pembangunan yg. dilakukan swasta dg. hal-hal diatas? Lihatlah Jakarta. Berapa banyak hotel berbintang yang menggunakan sumur dalam untuk menyuplai airnya. Dari majalah Tempo yg. saya baca (beberapa tahun yang lalu!), peresapan air laut ke kota Jakarta makin besar. Belum lagi, karena banyaknya sumur2 ini, bukan saja air laut yg. terhisap, yg. lebih parah lagi adalah air dari 'septitank' (yach...:)

Mengenai infrastruktur yg. disebut Moore "jelek" itu, mungkin bisa ditanya lagi, bagian yg. mana?

Soal pendidikan, ini mungkin yang menjadi salah problem utama di AS terutama dalam bidand-bidang Sains dan Matematik. Tapi ini mungkin bisa dipersempit dalam hal pendidikan dasar, bukan pendidikan di Universitas-universitas (karena dalam hal ini, disana masih bercokol universitas-universitas paling top dunia). Pendidikan dasar (terutama di beberapa state spt. California) sekarang ini memang terbukti lemah dalam hal science-math. Sebagai contoh saja: beberapa anak-anak Indonesia yg. sebelumnya sekolah
di Indonesia dan kemudian pindah ke AS, rata-rata ranking mereka diatas. Lebih parah lagi pendidikan di sekolah menengah dan SMA-nya. Secara umum, sekolah swasta di Amerika lebih tinggi rankingnya karena mereka tidak terlalu mengikuti kurikulum dan lebih mengandalkan kelas-kelas khusus untuk anak-anak unggulan.

Jumlah tahun pengajaran untuk pendidikan dasar sama spt. di Indonesia (12 tahun). Beberapa sekolah memberikan tingkatan 6-2-4 (6 tahun SD, 2 tahun SMP dan 4 tahun SMA), sebagian lagi 5-2-4.

Tidak seperti lulusan SMA di Indonesia yg. nampaknya lebih siap menghadapi pelajaran2 di universitas (meski tidak semuanya), di Amerika kebanyakan lulusan SMAnya kurang siap, sehingga harus masuk ke Junior college (semacam pra-universitas atau TPB-nya ITB).

Satu hal yg. berbeda (dan masih unggul, mungkin) adalah metoda pengajaran berdasarkan 'analisa & sintesa' serta pengungkapan pendapat sejak dini. Sejak TK, mereka diajarkan untuk menganalisa (tentu setarap dg. kemampuam mereka), membuat laporan dan sering mempresentasikannya di depan kelas (ini anak2 SD lho, bukan SMA).

Tapi, secara keseluruhan dan dibandingkan budget untuk hal-hal lain, dana untuk pendidikan di AS relatif rendah (makanya sekarang sering diprotes). Tidak seperti di Indonesia yg. dana pendidikannnya dari pusat, sebagian besar dana pendidikan diberikan oleh negara-negara bagian (terkecuali state2 yg. relatif miskin dibanding lainnya). Kurikulum pun dibuat oleh masing2 state, meski sekarang ada usaha untuk memberikan 'guideline' secara nasional.

Sekarang ini, bukan saja wali murid dan guru yang protes soal rendahnya dana untuk sekolah, tetapi bahkan industriawan-industriawan spt. Bill Gates (Microsoft), Andy Grove atau Craig Berrets (Intel), Palmisano (IBM) dan lain-lain.

Tapi, bisa jadi juga pendapat Michael Moore di bukunya "The Fat White Man" sedikit banyak dipengaruhi dengan pendapat politisnya terhadap administrasi Bush. Maklum, dia khan penduduk partai Demokrat, sementara si Bush Republik.

Kalau menurut saya pribadi, salah satu penyebab utama turunnya pendidikan dasar (terutama sekali Sains dan Matematik) di AS adalah menurunnya jumlah imigran terdidik (akibat aksi-aksi paska 9/11). Menurut statistik terakhir, peningkatan pesat imigran adalah dari negeri Mexico, dimana secara sosio-ekonomi kurang memprioritaskan pendidikan, baik di dalam lingkungan mereka atau pun di sekolah-sekolah.

Brutalnya, sekolah-sekolah di lingkungan warga kulit putih mayoritas beranking tinggi, sehingga menyebabkan lebih banyak warga kulit putih (dan asia) untuk pindah ke distrik sekolah-sekolah tsb. Ini menyebabkan meningkatkan harga-harga rumah di dareah-daerah tsb. naik secara tajam. Jadi, yang miskin (dan tidak terdidik) makin miskin dan terkebelakang, yang kaya makin maju. Ujung-ujungnya, Itulah kapitalisme :-)

Sunday, May 08, 2005

Presiden Perusak Negerinya Sendiri

Presiden Bush merupakan satu diantara pemimpin negara yang unik dan kerap digolongkan 'pemimpin bodoh'. Mungkin banyak benarnya juga. Bayangkan, setelah menyerang Afganistan dan Irak dan menghabiskan uang pajak rakyat AS bermilyar-milyar dollar untuk perang, pengetatan dana untuk riset-riset dasar, ekonomi amerika juga tidak menampakkan kecerahan yang jelas.

Sekolah-sekolah dasar, terutama di California, turun kualitasnya. Beberapa kali terdengar bahkan sejumlah sekolah ditutup dikarenakan kekurangan dana. Gubernur Arnold "Terminator" Schawrzenegger memutuskan untuk mengurangi dana untuk pendidikan. Gubernur pendukung Bush ini lebih memilih untuk mengalihkan dana negeri California untuk alokasi-alokasi yang tidak jelas.

Kualitas universitas-universitas di Amerika menurun dikarenakan berkurangnya mahasiswa-mahasiswa asing yang brilliant. Ini diakui oleh sejumlah pemimpin universitas ternama, seperti Princeton, Stanford, Harvard dsb. Bill "Microsoft" Gates, Craig "Intel" Barrets dan beberapa CEO perusahaan-perusahaan hi-tech besar lainnya telah mengeluhkan hal ini ke Kongress/presiden. Bahkan Bill Gates mengeluhkan ketatnya imigrasi Amerika dalam memberikan visa H1 (visa kerja) ke calon-calon pekerja asing yang banyak diantaranya brilliant dan berkreasi.

Lucunya, dengan keadaan seperti ini si Bush masih terpilih dalam putaran kedua kepresidenannya. Ini nampaknya menggambarkan "kebodohan" secara umum rakyat Amerika. Yang pandai tidak peduli dengan politik, yang bodoh "berkuasa". Belum lagi kebijakan-kebijakan "tolol" si Bush Jr. ini.